Pada perdagangan Kamis (31/3/2022), indeks utama Wall Street ditutup merosot. Konflik yang berkelanjutan di Ukraina, inflasi, serta respons dari Federal Reserve yang makin agresif menimbulkan kekhawatiran dan mempengaruhi penurunan Wall Street. Termasuk karena turunnya indeks utama juga dialami S&P 500, yang mengalami penurunan kuartalan terbesar dalam dua tahun.
Mengutip Reuters, Jumat (1/4), Dow Jones Industrial Average (.DJI) turun 550,46 poin atau 1,56 persen menjadi 34.678,35, S&P 500 (.SPX) kehilangan 72,04 poin atau 1,57 persen, menjadi 4.530,41 dan Nasdaq Composite (.IXIC) turun 221,76 poin atau 1,54 persen menjadi 14.220,52.
Walaupun S&P mengalami kuartal terburuk sejak pandemi COVID-19 melanda Amerika Serikat pada tahun 2020, nilai sahamnya berangsur pulih pada bulan Maret.
Selama kuartal I 2022, S&P 500 turun 4,9 persen, Dow kehilangan 4,6 persen dan Nasdaq turun 9,1 persen, tetapi untuk bulan ini S&P 500 naik 3,6 persen, Dow naik 2,3 persen dan Nasdaq naik 3,4 persen.
Semua dari 11 sektor utama S&P lebih rendah dengan keuangan (.SPSY) dan layanan komunikasi (.SPLRCL) termasuk yang terlemah selama sesi.
Investor akan melihat laporan pekerjaan untuk mengkonfirmasi lebih lanjut tentang kekuatan pasar tenaga kerja, yang akan mempengaruhi kebijakan moneter oleh bank sentral AS.
Sementara itu, optimisme tentang kemungkinan kesepakatan damai antara Ukraina dan Rusia, lenyap saat Presiden Rusia Vladimir Putin mengancam akan menghentikan kontrak yang memasok sepertiga dari gasnya ke Eropa kecuali jika dibayar dalam rubel, karena Ukraina bersiap untuk serangan lebih lanjut.
Harga saham telah sensitif terhadap tanda-tanda kemajuan menuju pakta perdamaian antara Rusia dan Ukraina. Inflasi tinggi di AS telah meningkat dengan melonjaknya harga komoditas seperti minyak dan logam sejak perang dimulai.
Adapun hari ini merupakan laporan indeks harga konsumen AS, yang diperkirakan mengalami kenaikan 0,4 persen.
“Angka tersebut keluar hari ini, yang merupakan angka pilihan Fed, dan meskipun itu tepat sasaran, itu lebih tinggi dari bulan lalu, dan itu akan terus naik, oleh karena itu Anda melihat beberapa kelemahan,” kata Managing Partner di Kace Capital Advisors di Boca Raton, Florida, Ken Polcari.
Ketika harga naik, The Fed menjadi lebih agresif dalam menaikkan suku bunga untuk memerangi inflasi, yang berpotensi membatasi pertumbuhan ekonomi.
“Itu hanya memperkuat (Ketua Fed) Jay Powell dan posisi Fed untuk lebih agresif sehingga akan ada beberapa kenaikan sebanyak 50 basis poin,” ujar Polcari.
Volume penjualan saham di bursa AS sebesar 12,08 miliar saham dibandingkan dengan rata-rata 13,9 miliar saham untuk sesi penuh selama 20 hari perdagangan terakhir.