Sejumlah Faktor Halangi Pertumbuhan Ekonomi AS, Wall Street Melemah

Pada penutupan perdagangan Rabu (30/3/2022), indeks saham Amerika Serikat (AS), Wall Street melemah. Minimnya perdamaian antara Ukraina dan Rusia, dan Bank Sentral AS Federal Reverse yang agresif atau hawkish, membuat pertumbuhan ekonomi AS terhambat. Sehingga berdampak pada melemahnya Wall Street.

Dikutip dari Reuters, Kamis (31/3), Pasukan Rusia membombardir pinggiran Kyiv dan kota yang terkepung di Ukraina Utara, sehari setelah berjanji untuk mengurangi operasi militer.

Indeks Dow Jones Industrial Average (DJIA) turun 65,38 poin (0,19 persen) menjadi 35.228,81 poin. Indeks S&P 500 (SPX) kehilangan 29,15 poin (0,63 persen) menjadi 4.602,45 turun dan indeks Nasdaq Composite (IXIC) turun 177,36 poin (1,21 persen) menjadi 14.442,28 poin.

Indeks S&P rebound lebih dari 5 persen sepanjang Maret 2022, usai penurunan dua bulan berturut-turut sejak awal tahun. Namun, indeks benchmark ini memang telah menurun sejak kuartal I 2020, saat pandemi COVID-19 di AS mencapai puncaknya.

“Ukraina adalah narasi pengendali untuk pasar ini. Apabila invasi telah selesai, ini benar-benar kuncinya sehingga kita mendapat harga energi lebih rendah. Semacam ekonomi normal kembali yang berdampak positif bagi pasar saham,” kata mitra Cherry Lane Investments Rick Meckler.

Apabila invasi belum selesai, Rick menyebut pelaku pasar saham akan terus memutar balik untuk mencerna siapa yang menang dan kalah dari invasi ini, karena banyak konsekuensi yang tidak diinginkan imbas invasi ini.

Indeks energi S&P (.SPNY) memimpin sektor saham dengan kenaikan 1,17 persen. Sepanjang tahun ini, kenaikan indeks energi S&P menyentuh 40 persen, menandai kinerja kuartal terkuat yang pernah ada.

Sektor utilitas (.SPLRCU) melampaui kinerja positif, yang naik hampir 4 persen pada tahun ini namun tutup untuk sesi keempat berturut-turut.

Saham Lululemon Athelica Inc (LULU.O) melonjak 9,58 persen, setelah memperkirakan laba dan pendapatan di atas target. Lonjakan ini disebabkan permintaan pakaian atletik kian meningkat.

Harga saham bergerak akibat berita negosiasi Rusia menyelesaikan invasi ke Ukraina. Harga komoditas seperti minyak dan logam, memperkuat inflasi AS yang sudah tinggi.

Ketika inflasi meningkat, muncul spekulasi Federal Reserve lebih agresif menaikkan suku bunga, sehingga meredam pertumbuhan ekonomi.

 

Leave a Comment