Indeks utama Wall Street ditutup bervariasi pada perdagangan Senin (14/3). Indeks Nasdaq bahkan mengalami penurunan lebih dari 2 persen karena investor menjual saham-saham sektor teknologi dan sektor dengan kapitalisasi besar lainnya.
Dikutip dari Reuters, Selasa (15/3), Dow Jones Industrial Average naik 1,05 poin menjadi 32.945,24, S&P 500 kehilangan 31,2 poin atau 0,74 persen menjadi 4.173,11 dan Nasdaq Composite turun 262,59 poin atau 2,04 persen menjadi 12.581,22.
Sementara itu konflik Ukraina-Rusia juga menyebabkan investor lebih bersikap hati-hati. Delegasi Rusia dan Ukraina dikabarkan telah mengadakan pembicaraan putaran keempat pada hari Senin, tetapi tidak ada progres kesepakatan yang diumumkan.
Saham Apple Inc tercatat turun 2,7 persen, menghambat pergerakan S&P 500 dan Nasdaq. Saham Apple melemah setelah salah satu distributornya yaitu Hon Hai Precision Industry Co Ltd, yang dikenal sebagai Foxconn, menghentikan operasi di Shenzhen China karena meningkatnya kasus COVID-19.
Adapun Bank Sentral AS The Fed diperkirakan akan menaikkan suku bunga untuk pertama kalinya dalam tiga tahun pada Rabu mendatang. Kebijakan ini diambil sebagai upaya untuk memerangi kenaikan inflasi.
Di sisi lain, sektor teknologi dan konsumer menjadi hambatan terbesar bagi laju S&P 500. Penurunan di sektor teknologi disebabkan oleh rencana The Fed dalam menaikkan suku bunga. Seperti diketahui, suku bunga yang lebih tinggi adalah sentimen negatif bagi saham-saham di sektor teknologi.
Indeks keuangan S&P naik 1,3 persen karena imbal hasil Treasury AS melonjak ke level tertinggi dalam 2,5 tahun. Sementara itu sektor kesehatan naik 0,7 persen yang membuat saham m UnitedHealth Group juga terkerek 1 persen.
Sayangnya sektor energi turun 2,9 persen yang disebabkan harga minyak mentah Brent turun di bawah USD 110 per barel, setelah sebelumnya naik mencapai USD 139 per barel karena krisis Ukraina. Harga minyak dan komoditas lainnya melonjak menyusul sanksi keras Barat terhadap Rusia.
Volume perdagangan di Wall Street mencapai 14,26 miliar saham, lebih tinggi dibandingkan rata-rata perdagangan saham selama 20 hari terakhir sebanyak 13,7 miliar saham.
MENGUAT
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diprediksi menguat terbatas pada perdagangan Selasa (15/3). Pada hari kemarin, Senin (14/3), IHSG berakhir hijau dan ditutup naik 29,602 poin (0,43 persen) ke posisi 6.952,204.
CEO Indosurya Bersinar Sekuritas, William Surya Wijaya menyebut pergerakan IHSG masih menunjukkan belum meninggalkan rentang konsolidasi wajar hingga saat ini.
“Hari ini pergerakan IHSG akan diwarnai oleh rilis data perekonomian neraca perdagangan. Kondisi perekonomian Indonesia masih berada dalam kondisi stabil,” ujar William dalam analisisnya, Selasa (15/3).
William melihat IHSG berpotensi untuk kembali mengalami kenaikan dalam jangka pendek. Capital Inflow tercatat, yang menunjukkan minat investor asing yang masih cukup besar ke dalam pasar modal Indonesia.
Sementara itu, Head of MNC Sekuritas, Edwin Sebayang menyebut langkah Bank Sentral Amerika Serikat atau The Federal Reserve (The Fed) menaikkan suku bunga (FFR) di hari Rabu besok membuat investor mengambil keuntungan secara cepat.
“Indeks Dow Jones Industrial Average (DJIA) sempat menguat selama perdagangan di hari Senin sebesar 451 poin (1,37 persen). Dengan investor kembali merealisasikan keuntungan, membuat indeks DJIA ditutup nyaris alias tidak bergerak,” katanya.
Edwin mengingatkan bagi investor agar berhati-hati dan mencermati harga saham berbasis komoditas yang menurun, seperti emas turun 1,96 persen, batu bara turun 7,05 persen, minyak sebesar 6,46 persen, CPO menurun 5,67 persen, dan nikel turun sebesar 4,07 persen.
Selain turunnya saham harga komoditas, naiknya yield obligasi AS menjadi sentimen negatif bagi IHSG dalam perdagangan Selasa ini.
Berikut saham-saham yang direkomendasikan William hari ini:
– PT Bank Central Indonesia Tbk (BBCA)
– PT Astra International Tbk (ASII)
– PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI)
– PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI)
– PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF)
– PT Kalbe Farma Tbk (KLBF)
– PT Tower Bersama Infrastructure (KLBF).