Wall Street Ditutup Melemah, Imbas Inflasi AS Capai Rekor Tertinggi dalam 40 Tahun

PADA perdagangan Kamis (11/3/2022), indeks utama Wall Street ditutup merah. Hal ini sejalan dengan inflasi Amerika Serikat (AS) mencapai level tertinggi dalam 40 tahun terakhir, memperkuat ekspektasi bahwa Bank Sentral AS (The Fed) akan menaikkan suku bunga minggu depan.

Dikutip dari Reuters, Jumat (11/3), ketiga indeks utama berakhir di zona merah. Dow Jones Industrial Average turun 112,18 poin, atau 0,34 persen, menjadi 33.174,07, S&P 500 kehilangan 18,36 poin, atau 0,43 persen, menjadi 4.259.52, dan Nasdaq Composite juga turun 125,58 poin, atau 0,95 persen, menjadi 13.129,96.

Enam dari 11 sektor utama di S&P 500 ditutup di wilayah negatif dengan saham-saham teknologi mengalami penurunan persentase terbesar, sementara saham energi mengalami kenaikan terbesar.

Indeks NYSE FANG+ para perusahaan raksasa yang bergerak dengan bidang teknologi anjlok 2,1 persen. Adapun saham perbankan juga ikut anjlok, Indeks perbankan S&P 500 turun 1,0 persen.

Contohnya Goldman Sachs Group Inc, menjadi bank investasi besar AS pertama yang mengumumkan penutupan operasi di Rusia. Sahamnya turun 1,1 persen. Lalu Oracle Corp merosot hampir 6 persen setelah umumkan hasil kuartalan.

Amazon memberikan salah satu titik terang hari ini, sahamnya melonjak 5,4 persen setelah raksasa e-commerce itu mengumumkan pemecahan saham 20-untuk-1 dan pembelian kembali saham senilai USD 10 miliar.

Selain imbas dari inflasi dan pengetatan moneter The Fed, ketidakpastian yang membayangi seputar invasi Rusia ke Ukraina juga membantu meyakinkan pelaku pasar untuk memulai posisi mereka kembali ke zona aman.

Data Consumer Price Index (CPI) atau indeks harga konsumen AS menunjukkan bahwa The Fed bisa bergerak lebih agresif untuk mengekang inflasi di tahun mendatang, karena dijanjikan oleh Ketua The Fed Jerome Powell pekan lalu.

Pertumbuhan CPI inti tahunan telah melonjak di atas target inflasi tahunan rata-rata The Fed. Komoditas energi adalah penyebab utama, dengan harga bensin melonjak 6,6 persen dalam satu bulan, meskipun tidak mencerminkan keseluruhan lonjakan harga minyak mentah karena konflik Rusia dan Ukraina.

 

MELEMAH

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diprediksi melemah pada perdagangan hari ini, Jumat (11/3). Pada perdagangan kemarin, IHSG ditutup menguat 59,56 poin (0,87 persen) ke posisi 6.924,008.

Head of MNC Sekuritas, Edwin Sebayang, menjelaskan inflasi Amerika Serikat (AS) Februari 2022 mencapai 7,9 persen, level tertinggi dalam 40 tahun terakhir yaitu sejak tahun 1982, akan membayangi pergerakan IHSG hari ini.

Selain itu, ada kekhawatiran kembali memanasnya situasi perang Ukraina dan Rusia menyusul kembali gagalnya perundingan gencatan senjata, menjadi sentimen pendorong Indeks Dow Jones Industrial Average (DJIA) ditutup turun Kamis kemarin sebesar 0,34 persen.

Melemahnya IHSG hari ini, lanjut Edwin, juga ditambah dengan sentimen jatuhnya harga beberapa komoditas seperti batu bara sebesar 15,42 persen, minyak 3,36 persen, dan timah 9,14 persen. Dia memperkirakan, IHSG hari ini akan bergerak di rentang 6.867 sampai 6.964.

“Jika kejatuhan DJIA dikombinasikan dengan turunnya EIDO sebesar 1,27 persen, serta cukup tajamnya kejatuhan harga beberapa komoditas menjadi faktor adanya peluang IHSG akan berbalik turun dalam perdagangan Jumat ini di tengah kembali naiknya yield obligasi AS dan Indonesia untuk tenor 10 tahun,” ujar Edwin dalam risetnya, Jumat (11/3).

CEO Indosurya Bersinar Sekuritas, William Surya Wijaya, mengatakan perkembangan pergerakan IHSG pada akhir pekan ini terlihat masih betah berada dalam area konsolidasi dengan potensi tekanan yang masih cukup besar.

“Namun pola gerak masih terlihat berada dalam kondisi uptrend untuk jangka panjang, sedangkan dalam jangka pendek masih berada dalam rentang sideways,” ujarnya.

Dia memprediksi IHSG hari ini berada di rentang 6.811 sampai 6.996. “Ini merupakan momentum yang dapat dimanfaatkan investor untuk melakukan akumulasi pembelian dengan target investasi jangka panjang,” imbuhnya.

Berikut saham-saham yang direkomendasikan William hari ini.

– PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR)

– PT Bank Central Asia Tbk (BBCA)

– PTSemen Indonesia (Persero) Tbk. (SMGR)

– PT Gudang Garam Tbk (GGRM)

– PT XL Axiata Tbk (EXCL)

– PT. Jasa Marga (Persero) Tbk (JSMR)

– PT Bumi Serpong Damai Tbk (BSDE)

 

Leave a Comment