Akibat Perang di Ukraina, Wall Street Merosot 

PADA perdagangan Jumat pekan lalu, Indeks utama Wall Street berakhir lemah. Percepatan pertumbuhan lapangan kerja AS bulan lalu menandai kekuatan ekonomi.

Dikutip dari Reuters, Senin (7/3), Krisis di Ukraina mendorong stok energi karena harga minyak mentah dan komoditas lainnya menguat, didukung saksi terhadap produsen minyak utama, yaitu Rusia.

Dow Jones Industrial Average (.DJI) turun 0,53 persen, berakhir pada 33.614,8 poin. Sedangkan S&P 500 (.SPX) turun 0,79 persen menjadi 4.328,87 poin.

Indeks S&P 500 (.SPXBK) turun 3,35 persen, mendorong kerugian minggu ini menjadi hampir 9 persen. Kerugian ini terendah sejak Juni 2020.

Sedangkan sektor energi S&P 500 (.SPNY) melonjak 2,85 persen dan naik sekitar 9 persen untuk minggu ini.

Beberapa saham yang bernilai tinggi menghadapi beban aksi jual, ditandai dengan S&P 500 (.IGX) turun 1,3 persen pada hari Jumat. Indeks nilai (.IVX) turun 0,3 persen.

Amazon.com Inc, Apple Inc (AAPL.O), pemilik Google-Alphabet Inc (GOOGL.O) dan Microsoft Corp (MSFT.O) kehilangan lebih dari 1 persen.

Nasdaq Composite (.IXIC) turun 1,66 persen menjadi 13.313,44. Untuk minggu ini, S&P 500 dan Dow keduanya turun 1,3 persen. Sedangkan Nasdaq anjlok 2,8 persen.

Ketua Federal Reserve Jerome Powell mengatakan akan mendukung kenaikan suku bunga 25 basis poin pada pertemuan kebijakan bank sentral pada 15-16 maret. Jerome akan bersiap untuk bergerak agresif, apabila inflasi tidak mereda secepat yang diharapkan.

Melonjaknya harga komoditas meningkatkan kekhawatiran inflasi yang lebih besar, sehingga mendorong The Fed menaikkan suku bunga yang agresif.

Saham WW International (WW.O) turun lebih dari 8 persen setelah Komisi Perdagangan Federal menyebut perusahaan “secara illegal” mengumpulkan informasi pribadi dari anak-anak tanpa izin orang tua.

Volume di bursa AS senilai 13,9 miliar saham, dibandingkan rata-rata 20 hari sebesar 12,6 miliar.

MENGUAT

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berpotensi bergerak menguat terbatas pada perdagangan hari ini, Senin (7/3). Pada Jumat pekan lalu, IHSG ditutup naik 59,926 poin (0,87 persen) ke posisi 6.928,32.

CEO Indosurya Bersinar Sekuritas, William Surya Wijaya, memperkirakan IHSG berada di range 6.811-7.996. Menurut dia, pergerakan IHSG pasca melalui pekan pendek masih terlihat belum mengalami kenaikan secara signifikan.

Apalagi, potensi penguatan masih terlihat pasca mencatatkan rekor All Time High (ATH) kembali.

“Kenaikan yang terjadi pada pergerakan IHSG juga ditopang oleh capital inflow tercatat secara year to date kembali masuk ke dalam pasar modal Indonesia,” ujar William dalam risetnya, Senin (7/3).

William mengatakan kenaikan ini menunjukkan tingkat kepercayaan investor asing terhadap pasar modal Indonesia. Namun sentimen dari pergerakan market global maupun regional masih memberikan dampak bagi pergerakan IHSG.

Sementara itu, Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas, Maximilianus Nico Demus, memprediksi sektor energi, industri, kesehatan, keuangan, teknologi, properti dan real estate bergerak positif dan mendominasi kenaikan IHSG hari ini.

“Investor asing mencatatkan pembelian bersih sebesar 2.388 miliar rupiah,” tulis Maximillianus dalam analisisnya.

Di sisi lain, Head of MNC Sekuritas Edwin Sebayang mengatakan penguatan IHSG didorong naiknya saham-saham berbasis komoditas menyusul tajamnya kenaikan harga seperti minyak sebesar 6,84 persen, batu bara sebesar 13,56 persen, emas sebesar 1,98 persen, nikel sebesar 6,69 persen, dan timah sebesar 1,72 persen.

“Penguatan ini di tengah naiknya EIDO sebesar 0,54 persen serta derasnya capital inflow ke Bursa Indonesia,” ucap Edwin.

William merekomendasikan saham-saham berikut, di antaranya AALI, BBRI, TLKM, ITMG, BBNI, JSMR, ASII, dan AKRA.

 

Leave a Comment