S&P 500 Kembali Cetak Rekor Usai Penjualan Ritel AS Naik, Wall Street Menguat

Pada perdagangan Senin (27/12/2021), indeks utama Wall Street berakhir ditutup dengan indeks S&P 500 cetak rekor tertinggi. Kenaikan indeks saham di empat sesi berturut-turut karena penjualan ritel AS yang kuat yang diharapkan mampu mendorong ekonomi.

Dikutip dari Reuters, Selasa (28/12), Dow Jones Industrial Average naik 351,82 poin atau 0,98 persen menjadi 36.302,38, S&P 500 naik 65,4 poin, atau 1,38 persen menjadi 4.791,19, dan Nasdaq Composite bertambah 217,89 poin, atau 1,39 persen menjadi 15.871,26.

S&P 500 naik 4,9 persen selama bulan ini, persentase kenaikan terbesar sejak awal November 2020.

“Pasar berada di tempat yang menarik, di mana kami memiliki konsumen yang kuat, dengan pengeluaran naik 8 persen dari tahun ke tahun. Konsumsi pribadi membentuk 70 persen dari PDB kami, dan itu tetap rata,” kata Sylvia Jablonski Kampaktsis, Kepala Investasi dan Rekanan yang juga pendiri di Defiance ETF di New York.

“Omicron mengingatkan kita bahwa kita masih ada di ekosistem corona ini. Dan itu mungkin salah satu dari banyak hal yang akan terus kita bicarakan dengan virus ini tetapi skenario kiamat COVID 2020 terasa seperti jauh di belakang kita,” tambahnya.

Menurut laporan Mastercard Inc, penjualan ritel AS meningkat 8,5 persen secara tahunan di musim liburan ini, didukung oleh ledakan e-commerce yang juga turut memberikan dorongan terhadap indeks ritel S&P 500.

Sementara itu, saham terkait perjalanan masih sensitif terhadap berita virus corona. Kondisi itu kembali menurun usai maskapai penerbangan AS membatalkan sekitar 800 penerbangan lagi pada Senin karena kasus Omicron melonjak.

Indeks maskapai S&P 1500 turun 0,57 persen. Operator kapal pesiar Norwegian Cruise Line Holdings, Royal Caribbean, dan Carnival Corp masing-masing turun 2,55 persen, 1,35 persen, dan 1,18 persen di antara penurunan terbesar pada benchmark S&P 500.

Meski begitu, indeks saham utama AS berada di jalur untuk kenaikan tahunan ketiga berturut-turut, dengan patokan S&P 500 siap untuk kinerja tiga tahun terbaiknya sejak 1999.

Volume di bursa AS adalah 7,76 miliar saham, lebih rendah dibandingkan dengan rata-rata 11,74 miliar untuk sesi penuh selama 20 hari perdagangan terakhir.

SEMAKIN CEMERLANG

Kinerja bursa Indonesia semakin cemerlang di 2021, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sempat mencapai rekor di 6.754. Begitu juga jumlah investor baru yang mencapai 1 juta di 8 bulan berjalan 2021.

Lalu bagaimana proyeksi bursa di tahun 2022 mendatang?

Menurut analis PT Pilarmas Investindo Sekuritas, Maximilianus Nico Demus, kinerja bursa di tahun depan bisa jadi lebih baik, tapi bisa juga jadi lebih buruk. Ini tergantung dari kondisi penyebaran varian COVID-19 dan penangannya.

“Tahun depan itu sebetulnya tahun yang optimis, tapi harus realistis. Karena kalau kita lihat sebetulnya pencapaian di 2021 ini belum tentu akan terulang kembali. Dalam arti bisa jadi lebih baik atau bisa juga jadi lebih buruk,” ujar Maxim saat dihubungi kumparan, Selasa (28/12).

Munculnya varian Omicron membawa kemungkinan gelombang baru COVID-19 yang artinya mungkin adanya pembatasan kembali. Hal ini dinilai bisa mempengaruhi tren bursa karena ketika terjadi pembatasan maka ekonomi akan kembali melambat.

“Tapi kan apa pun bisa terjadi apalagi seperti yang kita tahu, apa yang membuat kita harus realistis, satu adalah varian baru Omicron dan tidak menutup kemungkinan apakah akan muncul varian baru lain,” tuturnya.

“Ketidakpastian itu masih ada di pasar. Variabel ketidakpastian COVID-19 itu masih tinggi. Itu yang mesti diperhatikan. Nah penanggulangannya seperti apa, sejauh apa pemerintah di setiap negara mampu menanggulanginya di saat itu lah fase pemulihan akan tetap terjaga,” lanjutnya.

Sementara Analis Indo Premier Sekuritas, Mino, optimistis kinerja bursa Indonesia tahun depan akan lebih gemilang. Ini didukung kondisi ekonomi yang mulai membaik.

“Untuk tahun depan pasar modal indonesia diprediksi akan mencatatkan kinerja yang lebih baik dibandingkan dengan tahun ini seiring potensi pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi sejalan dengan tren penurunan kasus COVID-19 dan tingkat vaksinasi yang sudah mencapai lebih dari 70 persen untuk dosis satu dan 50 persen lebih untuk dosis dua,” kata dia.

 

 

Leave a Comment