PADA perdagangan Jumat (10/12/2021), S&P 500 mencatat rekor penutupan tertingginya dan Wall Street menguat. Ini akibat kenaikan tahunan terbesar dalam harga konsumen selama hampir empat dekade. Juga didorong inflasi yang sejalan dengan konsensus.
Dikutip dari Reuters, Dow Jones Industrial Average naik 216,3 poin atau 0,6 persen, menjadi 35.970,99. S&P 500 naik 44,57 poin atau 0,95 persen, menjadi 4.712,02 dan Nasdaq Composite naik 113,23 poin atau 0,73 persen, menjadi 15.630,60.
Sebuah laporan dari Departemen Tenaga Kerja menunjukkan harga konsumen melonjak bulan lalu ke tingkat pertumbuhan tahunan 6,8 persen. Angka menjadi yang tertinggi dalam lebih dari 39 tahun.
“Tampaknya reaksi hari ini akan menunjukkan pasar mengabaikan pembacaan (CPI),” kata Chuck Carlson, chief executive officer di Horizon Investment Services di Hammond, Indiana, dikutip Reuters, Senin (13/12).
Inflasi yang presisten karena tantangan rantai pasokan yang sedang berlangsung, menunjukkan Federal Reserve AS dapat mulai memperketat kebijakan moneter akomodatifnya lebih cepat dari yang diharapkan banyak orang.
Jajak pendapat ekonom Reuters melihat bank sentral menaikkan suku bunga utama dari mendekati nol menjadi 0,25-0,50 persen pada kuartal III tahun depan.
The Fed diperkirakan akan mengadakan pertemuan minggu depan untuk terkait kebijakan moneter. Ini akan diteliti oleh pelaku pasar terkait kenaikan suku bunga tersebut bersama dengan kecepatan pengurangan pembelian obligasinya.
Sebelas sektor utama di S&P 500 mengakhiri sesi hijau. Saham teknologi dan kebutuhan pokok konsumen menikmati lonjakan persentase terbesar.
Saham perusahaan perangkat lunak Oracle Corp melonjak 15,6 persen setelah memperkirakan prospek kuartal ketiga yang optimis. Sementara Broadcom Inc naik 8,3 persen setelah pembuat chip mengumumkan rencana pembelian kembali saham senilai USD 10 miliar.
Elon Musk, kepala eksekutif Tesla Inc, mengunggah tweet, “berpikir untuk berhenti dari pekerjaan saya dan menjadi influencer penuh waktu.” Sejalan dengan itu, saham pembuat mobil listrik naik 1,3 persen.
Southwest Airlines turun 3,8 persen setelah Goldman Sachs menurunkan peringkat saham maskapai penerbangan komersial menjadi jual dari netral.
Volume di bursa AS mencapai 9,60 miliar saham, lebih rendah dibandingkan dengan rata-rata perdagangan selama 20 hari yang mencapai 11,42 miliar selam.
MENGUAT
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diprediksi kembali menguat hari ini, Senin (13/12). Dalam penutupan perdagangan Jumat pekan lalu, IHSG ditutup menguat 0,14 persen di level 6.652,92.
Head of Research MNC Sekuritas, Edwin Sebayang, mengatakan laju IHSG akan bergerak di level support 6.606 dan level tertinggi 6.700 sepanjang perdagangan hari ini.
“Di awal minggu ini, IHSG diperkirakan akan kembali ijo royo-royo. Setelah selama seminggu lalu IHSG menguat sebesar 1,75 persen,” tulis Edwin dalam risetnya, Senin (13/12).
Menurut Edwin, biasanya Desember adalah masa-masa window dressing menjadi sentimen positif pendorong IHSG untuk menguat kembali.
Sementara itu, CEO Indosurya Bersinar Sekuritas William Surya Wijaya mengatakan pergerakan indeks saham masih menunjukkan pola tekanan terbatas.
Menurut William, minimnya sentimen serta perlambatan roda perekonomian yang terjadi masih menjadi tantangan tersendiri bagi emiten yang berada dalam pasar modal.
Artinya belum terlihat pemicu yang dapat mendorong kenaikan IHSG hingga jelang berakhirnya tahun 2021. Padahal, adanya tekanan merupakan momentum berharga bagi investor jangka menengah dan panjang dikarenakan harapan akan kondisi yang kian membaik.
“IHSG pada hari ini berpotensi bergerak terkonsolidasi,” ujarnya.
Berikut beberapa saham unggulan yang direkomendasikan William:
PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR)
PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF)
PT Summarecon Agung Tbk (SMRA)
PT Bank Central Asia Tbk (BBCA)
PT Jasa Marga (Persero) Tbk (JSMR)
PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI)
PT Wijaya Karya (Persero) Tbk (WIKA)
PT Tower Bersama Infrastructure Tbk (TBIG).