PADA penutupan perdagangan Selasa (2/11/2021), indeks utama Wall Street menguat hingga mencapai rekor tertinggi. Hal tersebut disebabkan musim pendapatan yang kuat terus mengangkat sentimen untuk ekuitas, sementara investor menantikan hasil pertemuan penting Federal Reserve atau The Fed.
Dikutip dari Reuters, Rabu (3/11/2021), S&P 500 dan Nasdaq mencatat rekor penutupan tertinggi untuk sesi keempat berturut-turut, sementara Dow Jones Industrial Average mencatat rekor penutupan ketiga berturut-turut dan berakhir di atas 36.000 untuk pertama kalinya.
Data awal menunjukkan S&P 500 (.SPX) naik 17,30 poin, atau 0,38 persen, menjadi berakhir pada 4.631,05 poin, sedangkan Nasdaq Composite (.IXIC) naik 53,69 poin, atau 0,34 persen, menjadi 15.649,60. Dow Jones Industrial Average (.DJI) naik 139,25 poin, atau 0,39 persen, menjadi 36.053,09.
Saham Pfizer (PFE.N) naik setelah perusahaan tersebut menyatakan pihaknya memperkirakan penjualan vaksin COVID-19 yang dikembangkannya dengan mitra Jerman BioNTech tahun 2021 mencapai USD 36 miliar.
Dow Jones Transportation Average (.DJT) yang sensitif melonjak mencapai level tertinggi sepanjang masa, terangkat oleh lonjakan saham Avis Budget (CAR.O) setelah perusahaan persewaan mobil tersebut melaporkan pendapatan.
Adapun saham Under Armour Inc (UAA.N) melonjak setelah perusahaan pakaian atletik itu menaikkan perkiraan tahunannya.
Secara keseluruhan, pendapatan perusahaan-perusahaan AS pada kuartal III 2021 lebih baik dari perkiraan karena ekonomi terus bangkit kembali dari pandemi COVID-19. Sekitar 320 perusahaan telah melaporkan keuangannya sejauh ini, sehingga pendapatan S&P 500 diperkirakan naik 40,2 persen pada kuartal III dari tahun lalu, menurut Refinitiv IBES.
The Fed pada hari Rabu diperkirakan akan menyetujui rencana untuk mengurangi program pembelian obligasi bulanan atau tapering off senilai USD 120 miliar, yang diberlakukan untuk membantu perekonomian selama pandemi COVID-19. Sementara investor juga akan fokus pada pernyataan bank sentral mengenai suku bunga dan bagaimana merespons lonjakan inflasi.
Sekitar 10,2 miliar saham berpindah tangan di bursa AS, lebih rendah dibandingkan dengan rata-rata harian 10,3 miliar selama 20 sesi terakhir.
TERTEKAN
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diprediksi berpotensi tertekan pada perdagangan hari ini, Rabu (3/11). Pada perdagangan kemarin, Selasa (2/11), IHSG berakhir di zona merah atau ditutup turun 59,614 poin (0,91 persen) ke posisi 6.493,275.
CEO Indosurya Bersinar Sekuritas, William Surya Wijaya, memperkirakan pergerakan IHSG hari ini berada di level 6.413 sampai 6.592.
William mengatakan perkembangan pergerakan IHSG terlihat masih akan berada dalam rentang konsolidasi wajar. Menurutnya, pola pergerakan masih akan diwarnai oleh sentimen dari harga komoditas.
Selain itu, masih belum terlihat capital inflow secara signifikan yang mengalir ke dalam pasar modal. Padahal akhir dari tahun 2021 telah di depan mata.
“Sedangkan penopang pergerakan IHSG berasal dari masih stabilnya kondisi perekonomian di tengah perlambatan yang terlihat dari data perekonomian terlansir, hari ini IHSG berpotensi tertekan,” kata William berdasarkan risetnya, Rabu (3/11).
Berikut ini beberapa saham unggulan yang direkomendasikan William adalah BBNI, BBCA, BINA, SMRA, ASRI, PWON, ITMG, UNVR, dan INDF. (*)