Wall Street Anjlok karena Investor Khawatir The Fed Percepat Naikkan Suku Bunga

USAI pejabat Presiden Federal Reserve Bank of St Louis James Bullard menyebut bank sentral AS akan menaikkan suku bunga lebih cepat dari perkiraan sebelumnya, Bursa saham Amerika Serikat atau Wall Street anjlok.

Pernyataan Bullard membuat investor panik akan inflasi, mengakibatkan tiga indeks utama Wall Street memerah pada penutupan perdagangan Jumat (18/6).

Dow Jones Industrial Average turun 533,37 poin atau 1,58 persen menjadi 33.290,08, S&P 500 kehilangan 55,41 poin atau 1,31 persen menjadi 4.166,45, dan Nasdaq Composite turun 130,97 poin atau 0,92 persen menjadi 14.030,38.

Pergerakan Dow Jones pada akhir pekan itu merupakan kinerja mingguan terburuk mereka dalam beberapa bulan. Usai Bullard berkata dia dan enam pejabat The Fed yang melihat adanya kenaikan suku bunga tahun depan langsung direspons pasar dengan aksi jual beli saham (profit taking).

“Saya tidak terkejut melihat pasar sedikit melakukan aksi jual. Saya tidak pernah terkejut, mengingat pergerakan kuat yang kami miliki untuk jangka waktu yang lama, ketika Anda melihat beberapa periode profit taking,” kata Tim Ghriskey, kepala strategi investasi di Inverness Counsel di New York, Senin (21/6).

Reuters melaporkan, ucapan Bullard ini mengisyaratkan pemerintah AS akan mulai mengurangi stimulus besar-besaran yang selama ini dikucurkan di masa pandemi.

Meski tiga indeks utama Wall Street melemah pada akhir pekan, harga minyak mentah AS yang secara tradisional menderita saat dolar menguat, berhasil rebound setelah salah satu sumber OPEC mengatakan kelompok produsen minyak memperkirakan pertumbuhan produksi minyak AS akan terbatas pada tahun ini.

Namun, pergerakan harga komoditas ini tidak diterjemahkan ke dalam sentimen positif untuk saham energi AS. Sebab indeks sektor tersebut juga mencetak kinerja terburuk pada akhir pekan lalu. Begitupun indeks utilitas dan keuangan yang turun lebih dari 2 persen.

MELEMAH

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diprediksi melemah pada perdagangan hari ini, Senin (21/6). Pelemahan IHSG ini disebabkan minimnya sentimen positif pendorong laju pergerakan pada awal pekan ini.

CEO PT Indosurya Bersinar Sekuritas, William Surya Wijaya memprediksi pergerakan IHSG akan berada pada rentang 5.924-6.123. Ia pesimistis laju IHSG pada awal pekan ini menunjukkan penguatan.

“Hari ini IHSG berpotensi berada dalam tekanan. Perkembangan pergerakan IHSG masih terlihat akan berada dalam kondisi tertekan, secara umum IHSG masih berada dalam fase konsolidasi jangka panjang dikarenakan masih minimnya sentimen yang dapat membooster kenaikan IHSG,” tulis William dalam risetnya, Senin (21/6).

Adapun sentimen lain yang berpotensi menekan laju IHSG adalah perlambatan ekonomi.

Senada, Associate Director of Research and Investment Pilarmas Sekuritas Maximilianus Nico Demus mengatakan, laju pergerakan IHSG masih akan tertekan. IHSG memiliki peluang bergerak melemah terbatas dan diperdagangkan pada level 5.972–6.083.

“Secara umum IHSG masih berada dalam fase konsolidasi jangka panjang dikarenakan masih minimnya sentimen yang dapat mem-booster kenaikan IHSG,” paparnya dalam publikasi risetnya, akhir pekan lalu.

Berikut saham pilihan yang layak dikoleksi:

– PT Adhi Karya (Persero) Tbk (ADHI)

– PT Wijaya Karya (Persero) Tbk (WIKA)

– PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR)

– PT Bank Ina Perdana Tbk (BINA)

– PT Bank Central Asia Tbk (BBCA)

– PT Gudang Garam Tbk (GGRM)

– PT Summarecon Agung Tbk (SMRA)

-PT Alam Sutera Realty (ASRI)

– PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP)

 

Leave a Comment