Pasar Forex Terjebak Volatilitas Rendah Jelang Super Thursday Pekan Ini

Volatilitas pasar keuangan di hari Selasa ini jatuh ke level terendah sebelum pandemi COVID-19. Para investor rupanya lebih memilih untuk minggir dahulu dari pasar, sembari menunggu sinyal yang lebih jelas tentang inflasi AS. Tanggapan bank sentral AS (The Fed) mengenai data tersebut, juga akan diperhatikan.

Kamis pekan ini, European Central Bank (ECB) akan menggelar rapat kebijakan moneter. Sedangkan inflasi AS akan dirilis pada hari yang sama. Minggu depan giliran The Fed yang akan menggelar pertemuan. Oleh karena itu, tak heran jika pasar terbilang flat.

Pasar keuangan yang berada dalam kondisi ranging, dapat diartikan bahwa volatilitasnya sedang turun. Indeks Volatilitas mata uang versi Deutsche Bank sudah anjlok ke level terendah sejak Februari tahun lalu.

Marshal Glittter selaku Kepala investasi BDSwiss, memperingatkan bahwa pasar forex “sudah hampir membeku”. Indeks-indeks yang banyak diperdagangkan pada hari Senin kemarin, macet di rentang 0.1%. Meskipun level-level volatilitas saat ini belum menunjukkan pergerakan ke arah rekor-rekor terendah, tetapu kelesuan sudah meluas. Semua pasangan mata uang berada di bahwa volume rata-ratanya.

Dolar AS memang menemukan support setelah terhantam data NFP AS yang kurang dari ekspektasi, di akhir pekan lalu. Hal itu membuat urgensi tapering The Fed kembali dipertanyakan. Sedangkan Euro jatuh ke tepi. Mata uang Single Currency tersebut tergencet oleh penguatan Dolar, sementara data industri Jerman merosot di bulan April.

Rapat ECB Dan Rilis CPI AS

Pasar uang secara umum berada dalam pola tertahan menjelang dua event penting pada hari Kamis mendatang. “Dengan para investor yang masih memproses proposal pajak G7, volatilitas rendah masih akan menjadi topik pasar forex minggu ini jelang ‘Super Thursday’ (CPI AS dan rapat ECB),” demikian tulis analis ECB yang dikutip oleh Reuters.

Indeks dolar naik 0,1% menjadi 90,105. Sementara terhadap euro, greenback 0,1% lebih tinggi pada $ 1,2174. Pound Inggris turun 0,2% menjadi $1,4147 dan dolar Australia turun 0,2% menjadi $ 0,7742. Kedua pair mata uang tersebut terjebak dalam kisaran yang terlihat selama beberapa bulan terakhir.

Dengan ketatnya kanal perdagangan baru-baru ini, volatilitas tersirat pada kedua mata uang tersebut juga telah turun ke level terendah sejak awal 2020, sebelum pasar terpukul oleh pandemi COVID-19.

Leave a Comment