Dolar AS Terjun Bebas Gegara NFP AS Tak Penuhi Ekspektasi

Dolar AS anjlok ke level terendah dua bulan di sesi perdagangan Jumat malam. Data ketenagakerjaan AS untuk bulan April dilaporkan turun jauh di bawah ekspektasi. Hal itu menghancurkan harapan jika pemulihan ekonomi akan mengarah ke kenaikan suku bunga dalam waktu dekat.

Non Farm Payroll (NFP) AS hanya bertambah 266,000 pekerjaan di bulan April, setelah mencapai 770,000 di bulan Maret. Perolehan tersebut jauh di bawah ekspektasi 978,000 pekerjaan. Departemen Ketenagakerjaan mengatakan bahwa mereka mengawasi dengan seksaama data ketenegakerjaan yang telah mereka terbitkan tersebut.

nfp

Dolar AS merosot 0.78% dan diperdagangkan di 90.22 pada sesi penutupan pasar pekan ini, level terendah sejak tanggal 26 Febaruari. “Dolar AS sangat terpukul pagi ini,” kata Boris Sclossberg, analis dari BK Asset Management.

“Angka (NFP) tersebut jauh di luar perkiraan konsensus. Padahal menurut saya, ekspektasi pasar tentang kenaikan suku bunga super tinggi dan tekanan inflasi tampaknya sudah menurun. Hal itu jelas berarti lebih banyak likuiditas dari The Fed.”

Hal itu berarti bahwa suku bunga rendah AS akan dipertahankan untuk beberapa waktu ke depan, dan akan menjadi katalis yang menekan Dolar AS, imbuh Schlossberg.

Akankah Mengubah Ekspektasi Ke Depan?

Euro melesat setengah persen ke $1.21140, begitu pula dengan Pound yang diperdagangkan di $1.3933. “Ini hanya satu laporan, tetapi mengubah pemikiran banyak trader tentang bagaimana pemulihan ekonomi berlangsung,” kata Edward Moya, analis pasar di broker forex OANDA, di New York.

Sementara itu, Michael Pearce dari Capital Economics mengatakan bahwa ada indikasi kekurangan dalam sektor ketenagakerjaan, sehingga berpotensi akan menjadi halangan terbesar bagi ekonomi.

“Secara umum, cukup sulit untuk menilai seberapa besar bobot yang harus diberikan pada laporan (Ketenagakerjaan AS) ini, ketika kebanyakan bukti lain menunjukkan bahwa aktivitas ekonomi pulih dengan cepat. Namun yang jelas, data tersebut merupakan pengingat bahwa pemulihan di pasar tenaga kerja tertinggal dibandingkan sektor konsumsi.”

Leave a Comment