Sindrom Imposter: Definisi, Gejala dan Manfaatnya – Part 1

Sindrom imposter bisa menggoyahkan rasa percaya diri anda. Namun, tidak memenuhi kualifikasi untuk posisi anda sebenarnya memberi anda keuntungan tersendiri dibanding teman-teman anda yang lebih percaya diri. Kenapa? Sindrom imposter adalah perasaan kalau prestasi anda tidak sebaik yang dibayangkan dan anda merasa seolah-olah akan dicap sebagai penipu. Sindrom ini telah lama dirasakan oleh orang-orang yang merasa terancam kesuksesannya.

Perasaan kalau anda sebenarnya tidak layak untuk prestasi yang dicapai dan seseorang pada akhirnya akan melihat kelemahan anda secara alamiah membuat anda merasa tertekan mengerjakan tugas sehari-hari. Namun, hasil temuan penelitian dari Basima Tewfik dari Massachusetts Institute of Technology menunjukkan bahwa perilaku yang ditunjukkan pada imposter sebagai usaha untuk mengimbangi rasa ragu pada diri sendiri sebenarnya justru membuat mereka bekerja lebih baik.

sindrom imposter 1

Sindrom Imposter: Kenali Beberapa Gejalanya!

Akibat perasaan kurang cakap dan upaya ekstra yang mereka lakukan untuk berkomunikasi, para imposter justru bisa menunjukkan kinerja lebih baik dibanding rekan kerja yang bukan imposer. Menurut Tewfik, ini berarti bahwa karakter yang paling tidak disukai seseorang dalam dirinya justru bisa memotivasi mereka untuk bekerja lebih baik.

Menurut International Journal of Behavioral Science, 70% lebih orang-orang yang bekerja pernah mengalami sindrom imposter di tempat kerja, setidaknya sekali. Di satu sisi, tekanan yang dialami berbeda-beda sesuai jenis pekerjaannya. Di sisi lain, gejala internalnya sebenarnya sama, misalnya:

  • Para imposter cenderung tampak seperti perfeksionis.
  • Mereka menyimpan keinginan rahasia untuk menjadi yang terbaik di setiap apa yang mereka lakukan.
  • Jika mereka tidak bisa memenuhi tujuan perfeksionis tersebut, para imposter biasanya akan kepikiran, kecewa, dan menganggam dirinya gagal. Jadi, muncul sebuah siklus di lingkungan kerja yang membuat para imposter melarang dirinya sendiri untuk menerima feedback positif tentang pekerjaannya.
  • Rasa cemas kalau kinerjanya buruk membuat mereka membuat persiapan lebih untuk sebuah presentasi, misalnya, meskipun presentasinya sukses, mereka tetap merasa ada yang kurang.
  • Jika mereka menunda sebuah tugas dan masih berhasil menyelesaikannya tepat waktu, mereka cenderung menganggap kesuksesan tersebut sebagai keberuntungan, bukan karena kemampuannya.

Manfaat Sindrom Imposter di Lingkungan Kerja Menurut Penelitian

Lalu, apa saja manfaat dari sindrom imposer ini di lingkungan kerja? Menurut Tewfik, salah satu ciri khas sindrom ini adalah adanya gap antara bagaimana seseorang menilai kompetensinya dan kompetensinya yang sesungguhnya. Tewfik ingin mengetahui bagaimana gap tersebut bisa mempengaruhi karir para imposer, baik dalam bentuk kualitas kerja maupun prinsip sosial seseorang di antara rekan-rekannya.

Untuk mengetahuinya, Tewfik bekerja sama dengan sekelompok supervisor di sebuah perusahaan supervisi investasi. Tim ini mengamati dan menilai keahlian personal para karyawannya (sebagian sedang mengalami sindrom imposter) selama 2 bulan. Tewfik menemukan bahwa meskipun meragukan diri sendiri, para pekerja yang sedang mengalami gejala imposter sebenarnya menunjukkan nilai interpersonal yang lebih efektif dibanding rekan-rekannya. Para manajer menilai bahwa mereka bisa bekerja sama secara lebih baik dibanding rekan kerja yang lainnya.

Kemudian, Tewfik bekerja dengan sekelompok mahasiswa kedokteran tingkat akhir yang akan memasuki tahap praktek klinik. Sebagian dirangsang untuk mengalami sindrom imposter dengan meminta mereka menulis kisah di mana mereka pernah mengalaminya di masa lalu. Proses ini dinilai efektif untuk memunculkan kondisi sindrom imposer, bahkan di bawah kondisi yang terkontrol. Mahasiswa kemudian diberi tugas untuk mendiagnosa penyakit tertentu. Sekali lagi, Tewfik menemukan bahwa mahasiswa imposer menunjukkan nilai yang lebih baik dibanding rekan-rekannya.

Tagged With :

Leave a Comment