Wall Street Bervariasi Setelah Mencuat Kembali Kekhawatiran Resesi AS

Bursa saham Amerika Serikat atau Wall Street bervariasi pada penutupan perdagangan Rabu (7/8).

Investor kembali membeli saham yang harganya terlalu murah (oversold) dan imbal merangkak naik dari posisi terendahnya akibat kekhawatiran resesi.

Dilansir Reuters, Kamis (8/8), Dow Jones Industrial Average (DJIA) turun 22,45 poin atau 0,09 persen menjadi 26.007,07, indeks S&P 500 (SPX) naik 2,21 poin atau 0,08 persen menjadi 2.883,98 dan Nasdaq Composite (IXIC) menambahkan 29,56 poin atau 0,38 persen menjadi 7.862,83.

Indeks S&P 500 pulih dari kerugian awal yang curam dan berakhir sedikit lebih tinggi, setelah investor mengambil kembali saham yang oversold dan imbal hasil obligasi rebound dari posisi terendah akibat kekhawatiran tentang resesi.

Meningkatnya kekhawatiran atas penurunan ekonomi global dan spekulasi Federal Reserve harus menurunkan suku bunganya, mendorong imbal hasil US Treasury turun tajam, dengan imbal hasil bertenor sepuluh tahun menyentuh level terendah sejak Oktober 2016.

Namun imbal hasil sepuluh tahun tersebut mulai merangkak naik setelah perdagangan sore yang cukup melunak. Akibatnya, sejumlah saham pub kembali meningkat.

“Imbal hasil sepuluh tahun telah mewakili semua kekhawatiran tentang pertumbuhan global saat ini, pasar saham pun telah mengaitkannya. Jadi ketika imbal hasil mulai naik hari ini, pasar saham mulai untuk bangkit,” ujar Michael Antonelli, ahli strategi pasar di Robert W. Baird di Milwaukee.

Selama sesi, tingkat imbal hasil US Treasury bertenor tiga bulan lebih dari imbal hasil bertenor sepuluh tahun. Hal ini mengindikasikan adanya resesi ekonomi di AS, polanya sama seperti Maret 2007.

Dalam perdagangan Wall Street kemarin, sektor keuangan mengalami kerugian terbesar di antara sektor S&P 500, yakni turun 1,2 persen. Sementara indeks bahan pokok dan bahan masing-masing berakhir lebih dari 1 persen.

Baca Juga:   Wall Street Anjlok akibat Pernyataan Bos Bank Sentral Eropa yang Mengecewakan

Investor juga tertarik pada beberapa penawaran saham setelah aksi jual baru-baru ini. S&P 500 turun 4,7 persen sejak penutupan tertinggi 26 Juli.

Sementara itu, sejumlah bank sentral di Selandia Baru, India, dan Thailand baru saja memangkas suku bunga acuan mereka di tengah kekhawatiran perang dagang AS-China yang dapat memperburuk pelambatan ekonomi global.

Kekhawatiran perdagangan muncul kembali setelah Presiden Donald Trump pekan lalu mengancam akan menampar pungutan 10 persen atau senilai USD 300 miliar pada impor China dan menyebut China manipulator mata uang.

Sektor energi turun 0,8 persen setelah harga minyak turun.

Di sisi positifnya, saham CVS Health Corp naik 7,5 persen, setelah rantai toko obat ini menaikkan perkiraan laba setahun penuh.

 

Tinggalkan sebuah Komentar