Tips Kelola Keuangan bagi Tulang Punggung Keluarga

ANDA berkeluarga? Menjadi tulang punggung keluarga? Menjadi tulang punggung keluarga memang bukan hal yang mudah. Terlebih bila sudah menyangkut keuangan.  Di satu sisi, Anda dihadapkan dengan kebutuhan pribadi di depan mata, namun di saat yang sama Anda harus memutar otak agar tanggung jawab keperluan keluarga bisa terpenuhi. Masa mau merem tidak mengurusi keperluan keluarga?

Perencana Keuangan yang sekaligus founder ZAP Finance Prita Ghozie menyebut, seseorang yang menjadi tulang punggung keluarga itu ibarat ‘sandwitch generation’.  Apa itu?

“Maksudnya, generasi yang terhimpit untuk menanggung kebutuhan generasi sebelumnya dan berikutnya,” terang Prita.

Berkaitan hal itu, Prita mengatakan bahwa bagi tulang punggung keluarga perlu mencatatkan penghasilan serta segala keperluan di awal untuk dirinya dan apa yang ia tanggung. Berapa sih penghasilan Anda? Lalu berapa tanggungan Anda?

“Oke lihat penghasilan kita berapa, kita bantu tanggungan keluarga untuk apa, contohnya kita bantu pendidikan adik kita atau membiayai orang tua yang sakit atau memang kondisinya di keluarga tak ada satupun yang bekerja,” katanya saat menjadi pembicara financial planning di  Jakarta Selatan, Kamis (24/1) malam.

Prita melanjutkan, pada upaya membantu keluarga itu juga perlu menjalin komunikasi agar saling mengerti kondisi masing-masing. Anda membantu mencukupi kebutuhan, dan mereka membantu anda meringankan beban tanggungan.

“Harus ada komunikasi, jangan menganggap tabu dan sungkan untuk menyampaikan kondisi keuangan kita. Sampaikan ke mereka pula untuk juga bisa berbuat semampunya. Misalnya, mencari beasiswa agar biaya pendidikan lebih ringan atau menggunakan BPJS kesehatan jika sakit, dan lainnya,” terang dia.

Prita menyebut, hal itu bukan untuk tujuan ingin hitung-hitungan, tapi pengelolaan keuangan yang baik perlu dilakukan agar bisa menyeimbangkan kebutuhan dan tidak kedodoran di masa depan.

Maka dari itu, Prita juga menyampaikan, meski menjadi tulang punggung keluarga kewajiban untuk menyisihkan dana tabungan dan investasi tak boleh dilewatkan.

“Meski jumlahnya lebih kecil, tapi upayakan mindset kita misalnya gaji Rp 5 juta, anggap kita punya gaji Rp 4,5 juta. Nah, yang Rp 500 ribu itu kita simpan,” tandas dia. (*)

Tinggalkan sebuah Komentar