The Fed Bakal Naikkan Suku Bunga, Wall Street Anjlok 3 Persen

Pada penutupan perdagangan, Jumat (26/8/2022), bursa saham Amerika Serikat (AS) atau wall street ‘kebakaran’ atau anjlok lebih dari 3 persen. Hal tersebut dipengaruhi oleh sikap hawkish bank sentral AS, The Fed terhadap suku bunga guna memerangi lonjakan inflasi.

Dikutip dari Reuters, Sabtu (27/8) tiga indeks utama Wall Street mengalami penurunan lebih dari 3 persen, seperti Indeks Dow Jones Industrial Average melorot 1.008,38 poin atau 3,03 persen ke 32.283,40, S&P 500 turun 141,46 poin atau 3,37 persen ke 4.057,66 dan Nasdaq Composite turun 497,56 poin atau 3,94 persen ke 12.141,71.

Volume perdagangan saham di bursa AS mencapai 10,37 miliar saham dengan rata-rata 10,64 miliar saham dalam 20 hari perdagangan terakhir.

Dalam simposium Jackson Hole, Gubernur The Fed Jerome Powell menyampaikan ekonomi AS akan membutuhkan kebijakan moneter ketat untuk beberapa waktu sebelum inflasi terkendali.

Powell mengulangi sikap kerasnya terhadap inflasi. Sehingga mendorong investor untuk mempertimbangkan implikasi dari suku bunga yang lebih tinggi yang dipertahankan untuk waktu yang lebih lama.

Itu artinya, pertumbuhan ekonomi akan lebih lambat, pasar kerja yang lebih lemah dan sedikit rasa sakit untuk rumah tangga dan bisnis.

Investor menafsirkan ini sebagai kenaikan suku bunga sekitar 50 hingga 75 basis poin (bps) di bulan depan. Powell mengatakan, kelanjutan pengetatan moneter ini bisa berarti pertumbuhan yang lebih lambat. Tapi dia tidak mengisyaratkan apa yang mungkin dilakukan The Fed pada pertemuan kebijakan September.

DIPREDIKSI MELEMAH

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diprediksi melemah pada perdagangan hari Senin (29/8). Pada akhir pekan lalu, IHSG menguat 0,52 persen menjadi 7.135.248 dari 7.12.434 pada pekan sebelumnya.

Research Analyst Artha Sekuritas Indonesia Dennies Christopher memperkirakan IHSG menguji support di level 7.095-7.115 dan resistance pada rentang 7.147 – 7.213.

Baca Juga:   Perlukah Bayar Mahal Untuk Belajar Saham?

Dennies mengatakan investor masih akan mencermati rencana pencabutan subsidi BBM yang bisa berdampak buruk ke pertumbuhan ekonomi dan inflasi. Pergerakan di awal pekan akan minim sentimen dari data ekonomi.

Hal senada diungkapkan oleh pengamat pasar modal dari MNC Asset Management Edwin Sebayang, bahwa IHSG berpeluang melanjutkan kejatuhan seiring indeks AS wall street anjlok. Kombinasi Indeks DJIA jatuh 3,03 persen setelah Chairman The Fed Jerome Powell mengatakan The Fed tidak kendur menaikkan suku bunga dalam memerangi inflasi.

“Diiringi terjadinya penurunan EIDO sebesar 1,55 persen, serta kejatuhan harga beberapa komoditas seperti emas turun 1,17 persen dan CPO turun 2,26 persen di tengah aksi penantian kapan harga BBM dinaikkan serta berapa besar kenaikan harga BBM tersebut,” ujar Edwin.

Di lain pihak, lanjut Edwin, katalis yang berpotensi menahan IHSG tidak jatuh tajam adalah kenaikan harga beberapa komoditas seperti batu bara sebesar 3,45 persen, minyak sebesar 0,51 persen dan nikel sebesar 1,34 berpotensi menjadi pendorong naik saham-saham di bawah komoditas tersebut.

Adapun beberapa saham yang menjadi rekomendasi Edwin, yaitu MEDC, PGAS, AKRA, EXCL, dan LSIP.

  1. MEDC

Technical Indicators: Strong Buy

Buy: 835

Target Price: 900

Stop-Loss: 800

  1. PGAS

Technical Indicators: Strong Buy

Buy: 1.940

Target Price: 2.040

Stop-Loss: 1.850

  1. AKRA

Technical Indicators: Strong Buy

Buy: 1.230

Target Price: 1.290

Stop-Loss: 1.170

  1. EXCL

Technical Indicators: Strong Buy

Buy: 2.700

Target Price: 2.840

Stop-Loss: 2.570

  1. LSIP

Technical Indicators: Buy

Buy: 1.235

Target Price: 1.300

Stop-Loss : 1.170

 

Leave a Comment