Sistem Pembayaran Baru: Contoh Keberhasilan dan Potensi PayFuture

Penduduk di negara-negara berkembang menyumbang sekitar 85% dari populasi global. Segmen ini juga sangat mempengaruhi angka pertumbuhan ekonomi dan sebagian besar diwakili oleh kelompok ekonomi menengah dengan daya beli yang berkembang pesat. Sebelum membahas tentang potensi sistem pembayaran baru dengan PayFuture, ada baiknya kita mengulas sedikit tentang alasan mengapa perusahaan-perusahaan dari negara-negara maju tidak menyasar kelompok konsumen di negara-negara berkembang ini.

Menurut salah satu pendiri perusahaan fintech asal Inggris PayFuture, bukan berarti perusahaan-perusahaan dari negara-negara Barat tidak mau menjual produk atau jasanya ke negara-negara berkembang. Mereka hanya tidak bisa melakukannya. Ada permintaan terhadap produk dan jasa yang mereka tawarkan (dan bahkan berkembang cepat), namun upaya memenuhi permintaan tersebut tidaklah semudah itu.

sistem pembayaran baru

Pasar Negara Berkembang dan Sistem Pembayaran Baru

Munculnya sistem penjualan online telah memecahkan masalah bagaimana cara menjangkau pasar baru dalam beberapa tahun terakhir. Hal ini diungkapkan oleh pendiri dan CEO PayFuture, Manpreet Haer. Jika ingin masuk ke pasar di negara-negara berkembang, perusahaan harus melayani sistem pembayaran lokal, dan sayangnya, kebanyakan perusahaan dari negara-negara maju tidak siap dengan sistem pembayaran baru ini.

Kemampuan PayFuture untuk menyelesaikan permasalahan tersebut semakin berkembang, sejak produk finansial ini pertama kali diluncurkan pada Tahun 2019. Sekalipun perusahaan ini tidak mendapatkan sokongan dana dari investor luar, para pendiri berupaya keras dan ternyata mampu menopang kebutugan finansial untuk pengembangan layanan finansial ini.

PayFuture saat ini menawarkan sejumlah layanan pembayaran di lebih dari 40 negara. Perusahaan ini menargetkan untuk mencapai nilai transaksi mencapai $2 Milyar tahun ini. Sejak awal pendiriannya, perusahaan ini menunjukkan kemajuan yang sangat pesat. Di Tahun 2020, PayFuture melaporkan laba kotor mencapai $4.3 juta. Padahal, tahun 2020 adalah tahun pertama beroperasinya perusahaan ini. Di Tahun 2021, perusahaan mampu menaikkan laba kotornya mencapai $11,1 juta.

Perusahaan ini menunjukkan proyeksi yang menjanjikan. Di tahun 2022, PayFuture memprediksi bahwa labanya akan naik minimal dua kali lipat. Perusahaan telah mengambil langkah-langkah cepat untuk menyokong ekspansi perusahaan. Jumlah tenaga kerja di perusahaan naik dari 14 anggota staf di Tahun 2021 hingga lebih dari 70 orang saat ini.

Sistem Pembayaran Baru : Titik Jual PayFuture

Titik jual yang unik dari perusahaan ini adalah kemampuannya untuk menghubungkan para merchant di negara-negara maju dengan solusi pembayaran lokal di negara-negara berkembang di mana mereka beroperasi. PayFuture menawarkan akses kepada lebih dari 30 negara di seluruh dunia. Seperti disampaikan Haer, kuncinya adalah menyelesaikan masalah yang belum terselesaikan selama ini. Perusahaan ingin menjembatani antara merchant dengan konsumen di negara-negara berkembang, sehingga mereka bisa mendapatkan akses secara aman.

Sistem pembayaran baru PayFuture saat ini memiliki klien di United Kingdom, Eropa, dan Amerika Utara. Perusahaan juga menghubungkan merchant di satu negara berkembang ke negara berkembang lainnya. Sektor layanan digital seperti teknologi pendidikan, travel, dan online game adalah target khusus. Perusahaan juga mengadakan pembicaraan dengan retailer online, meskipun sektor bisnis ini cenderung lebih lamban mengadopsi sistem pembayaran baru yang berskala lokal.

Selain memastikan pembayaran berjalan lancar, PayFuture juga menawarkan jasa untuk membantu klien mengatur sistem pembayaran di pasar negara berkembang untuk pertama kalinya. Perusahaan membantu mereka melalui birokrasi dan pita merah, misalnya memasang  sistem pembayaran dengan entitas lokal. PayFuture juga mendukung sistem pembayaran di daerah-daerah di mana layanan finansial maju belum tersedia secara luas.

Awalnya, PayFuture memusatkan pelayanannya di India, yang dianggap sebagai ‘gardu’nya pertumbuhan ekonomi dunia. Bahkan, para pakar ekonomi memprediksi bahwa India akan menjadi pasar terbesar ketiga di dunia di tahun 2030 nanti. Namun, kuncinya adalah ‘dimana’ konsumen ingin menjalankan usaha. Menurut Haer, di manapun para pengusaha ingin beroperasi, maka ke sanalah layanan PayFuture diarahkan. Kemudian, perusahaan akan membantu klien memastikan terciptanya sistem pembayaran yang memudahkan penduduk setempat.

Potensi PayFuture sebagai Sistem Pembayaran Baru

Perusahaan fintech seperti PayFuture menunjukkan ke mana arahnya pengembangan pasar, dan kepada perusahaan-perusahaan skala internasional mesti mengarahkan pandangannya. Haer menyebut wilayah Asia Tenggara sebagai salah satu daerah yang membutuhkan layanan semacam ini, terutama Pakistan dan Bangladesh. Afrika Timur juga cukup menarik di kalangan pelaku usaha, terutama Kenya dan Tanzania sebagai fokusnya.

Perusahaan percaya bahwa potensinya untuk berkembang sangatlah besar. PayFuture sangat potensial sebagai sistem pembayaran baru karena menawarkan sistem koneksi yang mudah ke metode pembayaran yang sudah ada di masing-masing daerah. Model bisnisnya tergantung kepada keuntungan kecil dari komisi transaksi yang terjadi melalui koneksi yang diciptakan PayFuture.

Ketika penggunaan internet semakin berkembang di daerah-daerah berkembang, maka potensi masuknya para pelaku e-commerce juga semakin meningkat. Artinya, kebutuhan untuk sistem pembayaran baru yang mengkoneksikan konsumen dengan sistem pembayaran global juga semakin meningkat.

Tagged With :

Leave a Comment