Sektor Teknologi hingga Energi Naik, Wall Street Ditutup Menguat

Pada perdagangan Selasa (22/11/2022), indeks Saham Amerika Serikat (AS) atau Wall Street ditutup menguat. Indeks ini dipimpin oleh kenaikan dalam sektor teknologi, energi, perawatan kesehatan, keuangan dan kebijakan konsumen.

Mengutip dari Reuters, Rabu (23/11), Dow Jones Industrial Average (.DJI) naik 1,18 persen menjadi 34.098,1, S&P 500 (.SPX) naik 1,36 persen menjadi 4.003,58, dan Nasdaq Composite (.IXIC) bertambah 1,36 persen menjadi 11.174,41.

“Kami melihat teknologi, kebijaksanaan konsumen, dan energi memimpin momentum penurunan sementara konsumen menahan saham memimpin kenaikan. Ini adalah tanda-tanda investor memposisikan diri untuk penurunan,” ujar Kepala Investasi Running Point Capital, Michael Ashley Schulman di Los Angeles, California.

Di sisi lain, ekuitas global naik pada hari Selasa lalu. Sementara imbal hasil Treasury AS mengalami penurunan akibat para investor yang menunggu rilis risalah pertemuan Federal Reserve.

Hal ini dilakukan sebagai petunjuk tentang suku bunga AS dan karena pembatasan COVID-19 China telah membebani sentimen. Adapun The Fed akan merilis risalah pertemuan kebijakan November pada Rabu ini.

Mereka menawarkan pandangan sekilas tentang bagaimana para pejabat melihat kondisi ekonomi. Selain itu, di China, pihak berwenang di Beijing menutup taman dan museum.

Lalu, di Shanghai, aturan diperketat untuk orang-orang yang memasuki kota ketika negara itu bergulat dengan lonjakan kasus COVID-19 yang memicu kekhawatiran tentang dampaknya terhadap ekonomi.

Menurut Manajer Portofolio Plumb Balanced Fund, Tom Plumb bahwa orang-orang akan meneliti kata demi kata hingga menit ke menit hanya untuk melihat apakah itu akan condong ke arah pernyataan resmi The Fed. Tidak hanya itu, mereka juga akan mempertimbangkan apa yang tersirat dalam konferensi pers Powell.

“Mereka tidak akan melihat efek kumulatif dalam mempertimbangkan kapan harus melakukannya. hentikan pengetatan ini,” ujar Plumb di Madison, Wisconsin.

Baca Juga:   Efek Laporan Tenaga Kerja AS, Wall Street Ditutup Menguat

DIPREDIKSI MELEMAH

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diprediksi melemah pada perdagangan hari Rabu (23/11). Pada hari Selasa, IHSG melemah 0,46 persen dan ditutup di level 7.030,58.

Research Analyst Artha Sekuritas Indonesia, Dennies Christopher, memperkirakan support indeks saham di rentang 6.978-7.004 serta resistance di level 7.082-7.134.

“Secara teknikal stochastic membentuk death cross” kata Dennies dalam risetnya, Rabu (23/11).

Menurut dia, pola grafik saham mengindikasikan potensi pelemahan. Pasalnya, pergerakan dibayangi wabah virus COVID-19 yang kembali menyebar.

“Dari global ada tekanan dari potensi kenaikan suku bunga The Fed,” ungkapnya.

Adapun beberapa rekomendasi saham dari Dennies adalah ADHI, PGAS, dan SSMS.

Hal senada diungkapkan juga oleh CEO Yugen Bertumbuh Sekuritas, William Surya Wijaya. Ia memprediksi pergerakan IHSG masih menunjukkan pola tekanan terbatas. Hal ini disebabkan masih minimnya sentimen yang terjadi masih menjadi tantangan tersendiri bagi pasar modal Indonesia.

“Sehingga, belum terlihat adanya booster yang dapat mendorong kenaikan IHSG dalam beberapa waktu mendatang” jelas William.

Meski begitu, momentum fluktuatif harga masih dapat terus dimanfaatkan oleh investor baik jangka pendek, menengah maupun panjang untuk melakukan trading ataupun investasi jangka pendek.

“Hari ini IHSG cenderung melemah terbatas,” ungkap William.

Beberapa saham yang direkomendasikan oleh William adalah BBCA, ITMG, SMGR, GGRM, TBIG, SMRA, BBNI dan AALI. (*)

 

Leave a Comment