Saham Energi Turun, Wall Street Melemah

XM broker promo bonus

Pada perdagangan Senin (9/8/2021), indeks utama Wall Street ditutup melemah. Kekhawatiran permintaan bahan bakar yang terpengaruh akibat kasus COVID-19 yang meningkat kembali, memicu saham di bidang energi memerah. Dan, hal itu berakibat pada penurunan indeks utama Wall Street.

Namun kenaikan imbal hasil Treasury AS mengangkat saham keuangan, menjaga indeks acuan Wall Street mendekati level rekor.

Dikutip dari Reuters, Selasa (10/8), Dow Jones Industrial Average turun 106,66 poin atau 0,3 persen menjadi 35.101,85. Sementara S&P 500 kehilangan 4,17 poin atau 0,09 persen menjadi 4.432,35, dan Nasdaq Composite naik 24,42 poin atau 0,16 persen menjadi 14.860,18.

Kinerja saham energi menjadi yang terburuk dari 11 sektor S&P utama, turun 1,48 persen bersama dengan harga minyak mentah karena meningkatnya kasus corona dan potensi pembatasan, terutama di China. Hal ini meningkatkan kekhawatiran tentang prospek permintaan bahan bakar.

China melaporkan kenaikan kasus positif COVID-19. Begitu juga dengan AS yang mencatat kasus COVID-19 dan pasien rawat inap pada level tertinggi selama enam bulan terakhir akibat varian Delta.

Saham keuangan naik, didukung oleh kenaikan imbal hasil Treasury AS 10-tahun kembali di atas 1,30 persen, level tertinggi sejak 16 Juli, karena laporan lowongan pekerjaan menunjukkan bukti lebih lanjut dari pasar tenaga kerja yang membaik.

Investor dinilai akan mengamati pembacaan inflasi AS minggu ini untuk membaca kebijakan Federal Reserve. Pada Senin, Ketua Fed Atlanta, Raphael Bostic, mengatakan Amerika Serikat harus melewati krisis pandemi sebelum bank sentral menaikkan suku bunga.

Analis memperkirakan pertumbuhan laba kuartal kedua sebesar 93,1 persen untuk perusahaan S&P 500, menurut data IBES dari Refinitiv. Dari 443 perusahaan dalam indeks yang telah melaporkan pendapatan sejauh ini, 87,4 persen mengalahkan ekspektasi analis dengan rekor tertinggi.

Baca Juga:   Sambut Data Tenaga Kerja AS, Wall Street Melesat

Sanderson Farms Inc naik 7,41 persen setelah setuju untuk dibeli seharga USD 4,53 miliar oleh pedagang komoditas Cargill Inc dan perusahaan investasi Continental Grain Co pada saat harga daging melonjak. Tyson Foods Inc naik 8,69 persen setelah perusahaan pengolahan daging menaikkan perkiraan pendapatan fiskal 2021.

Volume di bursa AS mencapai 8,55 miliar saham, lebih rendah dibandingkan rata-rata perdagangan selama 20 hari dengan 9,64 miliar sham.

MELEMAH

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diprediksi melemah hari ini. Pada penutupan perdagangan Senin (9/8) kemarin, IHSG ditutup turun 75,97 poin (1,22 persen) ke posisi 6.127,45.

Analis Reliance Sekuritas Lanjar Nafi secara teknikal memprediksi IHSG bergerak ke level 6.052 hingga 6.136 hari ini.

“Bursa Asia berpotensi kembali terkonsolidasi karena investor mempertimbangkan dampak penurunan harga komoditas dan pembicaraan The Fed mengenai penguatan stimulus hingga kebangkitan kasus virus delta,” ujar Lanjar dalam risetnya, Selasa (10/8).

Sementara CEO Indosurya Bersinar Sekuritas William Surya Wijaya menyebut, minimnya sentimen serta perlambatan roda perekonomian yang terjadi masih menjadi tantangan tersendiri bagi emiten yang berada dalam pasar modal. Selain itu, capital inflow juga belum terlihat akan bertumbuh secara signifikan.

“Namun momentum tekanan masih dapat terus dimanfaatkan oleh investor, baik jangka pendek, menengah maupun panjang, dikarenakan dengan pergerakan fluktuatif yang terjadi dalam IHSG dapat dimanfaatkan untuk melakukan trading ataupun investasi jangka pendek, hari ini IHSG berpotensi berada dalam tekanan,” tuturnya.

 

Berikut beberapa saham unggulan yang direkomendasikan William:

– PT Gudang Garam Tbk (GGRM)

– PT Bank Central Asia Tbk (BBCA)

– PT. Astra Agro Lestari Tbk (AALI)

– PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG)

Baca Juga:   Didukung Penguatan Saham Facebook, Amazon dan Apple, Wall Street Ditutup Menguat

– PT Alam Sutera Realty Tbk (ASRI)

– PT Jasa Marga (Persero) Tbk (JSMR)

 

 

Leave a Comment