Proyeksi Poundsterling Pasca Voting Brexit Di Parlemen

Voting draft Brexit di Parlemen Inggris akan diselenggarakan pada hari Selasa (15/Januari) ini. Para trader sedang bersiap untuk menghadapi volatilitas tinggi pada Poundsterling, yang akan menyertai hasil pemungutan suara tersebut.

Sebagian besar pakar memperkirakan bahwa PM Theresa May akan gagal untuk membuat parlemen menyetujui draft kesepakatan Brexit yang telah disusunnya bersama Uni Eropa. Jika prediksi tersebut terbukti, maka Poundsterling berpotensi menghadapi “roller-coaster” volatilitas karena ketidakpastian yang ditimbulkan setelahnya.

 

Poundsterling Akan Melemah Jika …

Pertama, jika penolakan parlemen tetap membuat PM May tak gentar dan bersedia untuk mengusahakan kembali revisi kesepakatan, seperti yang sudah ia lakukan sebelumnya, maka Pound diperkirakan akan melemah.

Kedua, jika penolakan parlemen berujung pada gangguan dalam pemerintahan Inggris. Di bulan Desember 2018 kemarin, mata Poundsterling jeblok terhadap Dolar AS dan Euro, saat PM May memutuskan untuk menunda voting Brexit di parlemen yang ia rencanakan pertama kalinya. Saat itu, PM May menyadari bahwa draft yang dibawanya ke parlemen belum sempurna dan sangat rentan ditolak.

 

Poundsterling Akan Menguat Jika …

Namun, apabila penolakan parlemen justru berujung diselenggarakannya referendum kedua, maka Poundsterling dapat menguat, terutama jika hasilnya No Brexit alias tidak jadi Brexit.

Jasper Lawler, Kepala Riset di London Capital Group mengatakan bahwa skenario yang terbaik sebetulnya adalah voting parlemen ditunda lagi untuk beberapa pekan ke depan. Dalam jeda waktu itu, lanjut Lawler, May punya kesempatan untuk mengimprovisasi kesepakatan Brexit dan menambak kekurangannya. Singkatnya, PM May hanya perlu mengulur-ulur waktu.

Namun, analis tersebut mengingatkan bahwa mengulur waktu voting terlalu lama juga mengandung konsekuensi negatif, yakni tak ada waktu lagi untuk mengubah hal yang diperlukan sebelum deadline tanggal 29 Maret mendatang.

“Percaya tak percaya, voting Brexit publik tampaknya lebih nyaman dengan keluarnya Inggris dari keanggotaan Uni Eropa tanpa kesepakatan… Toh, parlemen juga ogah-ogahan (untuk menyetujui kesepakatan Brexit PM May).” kata Lawler.

Tagged With :

Tinggalkan sebuah Komentar