Prospek Bisnis Properti Masih Menjanjikan di 2019

MESKI menghadapi sejumlah tantangan, namun pertumbuhan pasar property diperkirakan masih akan bergerak positif di tahun ini. Adapun segmen properti yang diperkirakan memiliki potensi tumbuh tinggi pada tahun ini yaitu rumah bersubsidi atau rumah khusus masyarakat berpenghasilan rendah (MBR).

Segmen ini diprediksi akan menjadi penopang industri properti. Mengingat kebutuhan rumah MBR khususnya di luar Jabodetabek masih tinggi.

“Di tahun ini kan tahun politik, sebenarnya efeknya lebih berdampak pada segmen properti menengah ke atas karena konsumen cenderung menahan investasi properti. Tapi, segmen properti menengah ke bawah atau rumah MBR itu prospeknya cukup bagus,” ungkap Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef ) Bhima Yudhistira Adhinegara, Selasa (12/2).

Segmen menengah ke bawah, lanjutnya, cenderung kebal atau tidak terpengaruh terhadap faktor eksternal, salah satunya tahun politik. Selain itu, banyaknya tawaran bunga kredit pemilikan rumah (KPR) murah dan down payment (DP) yang ringan membuat rumah khusus MBR semakin menarik.

“Karenanya, pengembang bisa mulai masuk ke segmen MBR,” tambahnya.

Sebagai informasi, berdasarkan data survei properti residensial Bank Indonesia, pertumbuhan rumah tipe kecil naik sebesar 29,3 persen di kuartal III 2018 secara year on year (yoy). Sementara tipe rumah besar hanya naik 2,3 persen dan tipe rumah menengah tumbuh 9,7 persen dibanding tahun sebelumnya.

“Kondisi terburuk dalam penjualan rumah sudah dilalui, yakni pada kuartal III 2017 dimana pertumbuhan penjualan rumah secara total sempat mencapai 34,5 persen,” pungkasnya.

Sebelumnya diberitakan, pemerintah akan menaikkan harha rumah bersubsidi di seluruh Indonesia tahun ini. Kenaikannya antara 3,5 persen hingga 7,5 persen, tergantung lokasi rumah.

Direktur Jenderal Penyediaan Perumahan Kementerian PUPR Khalawi Abdul Hamid mengatakan, usulan kenaikan harga tersebut setelah mempertimbangkan sejumlah aspek, mulai dari harga tanah, konstruksi, dan material yang juga meningkat. Adapun kisaran kenaikan tersebut juga berdasarkan survei yang dilalukan PUPR.

“Kami juga sudah evaluasi ke beberapa wilayah, sehingga kami usulkan kenaikkan 3 sampai 7,75 persen. Ada yang cuma 5 persen di Kalimantan, 7,75 persen, dan sebagainya,” ujar Khalawi di JCC Senayan, Jakarta, Sabtu (2/2).

Dia melanjutkan, persentase kenaikan harga tersebut juga sudah diusulkan ke pihak Kementerian Keuangan (Kemenkeu) sebagai otoritas fiskal. Bahkan Khalawi mengungkapkan, pada pekan depan diharapkan sudah ada keputusan terkait kenaikan harga rumah subsidi. “Sudah dibahas di Kemenkeu dua kali. Terakhir besok Senin bahas lagi dan semoga pekan ini akan ditetapkan,” jelasnya.

Khalawi menegaskan, selama belum ada keputusan resmi kenaikan harga rumah subsidi, masyarakat masih berpatokan pada harga tahun lalu. “Selama belum ada ya masih pakai yang harga 2018,” kata dia.

Menurut Khalawi, usulan harga kenaikan rumah subsidi tersebut jauh di bawah usulan Real Estat Indonesia (REI) yang sebesar 20 persen. “Jauh dari usulan REI yang 20 persen. Kita sudah hitung survei di seluruh Indonesia,” tambahnya.

 

Tinggalkan sebuah Komentar