Pengaruh Perang Rusia-Ukraina Terhadap Harga Komoditas

Perang Rusia-Ukraina sejak 20 Februari 2022 telah memicu kenaikan harga minyak mentah dunia, hingga Brent dan WTI masing-masing sempai menjangkau USD130 per barel. Harga minyak yang semakin mahal dapat mengancam pemulihan ekonomi dunia pasca-pandemi. Apalagi pengaruh perang Rusia-Ukraina bukan hanya mendobrak harga komoditas minyak mentah saja.

Pengaruh Perang Rusia Ukraina Terhadap Harga Komoditas

Rusia dan Ukraina bersama-sama memasok lebih dari seperempat ekspor gandum dunia. Banyak negara di Eropa, Asia, dan Afrika memiliki ketergantungan yang cukup tinggi pada gandum asal Rusia. Perang telah memicu kenaikan harga gandum sampai rekor tertinggi sejak bulan Februari 2008, sehingga muncul risiko bencana kelaparan di negara-negara yang pemerintahnya tak cukup kaya untuk mensubsidi kebutuhan pangan warga.

Pengaruh perang Rusia-Ukraina bisa jadi lebih parah dan berlarut-larut lagi, karena ada lebih banyak harga komoditas strategis yang terdampak. Berikut ini enam komoditas selain minyak dan gandum yang harganya melonjak:

  • Gas Alam

Harga gas alam berbeda-beda di setiap negara dan tak semuanya terdampak dahsyat oleh perang Rusia-Ukraina. Namun, harga gas di benua Eropa mengalami kenaikan signifikan karena tingginya ketergantungan kawasan terhadap pasokan gas Rusia.

  • Batu Bara

Acuan harga batu bara Indonesia di bursa NYMEX (Indonesian Coal Index) telah meningkat tiga bulan berturut-turut dari kisaran USD70 pada Januari sampai USD100 saat ini. Pasalnya, Rusia merupakan eksportir batu bara terbesar ketiga di dunia.

  • Besi Baja

Rusia menempati urutan kelima dan Ukraina menduduki posisi ke-15 dalam daftar produsen besi baja dunia. Tak pelak, harga besi baja melonjak lantaran perang ini. Untungnya, banyak negara produsen lain yang dapat meningkatkan kapasitas produksi dan berpotensi menggantikan Rusia-Ukraina dalam jangka menengah.

  • Nikel

Komoditas nikel semakin semarak selama beberapa tahun terakhir lantaran fungsinya sebagai bahan baku baterai kendaraan listrik. Rusia sempat panen untung sebagai eksportir terbesar yang memasok 28 persen kebutuhan nikel dunia, diikuti oleh Australia dan Kanada. Perang Rusia-Ukraina lantas memicu kenaikan harga nikel meningkat dua kali lipat hingga mencapai rekor USD100 ribu per metrik ton di London Metal Exchange (LME).

  • Aluminium
Baca Juga:   Macam-macam Harga Minyak Acuan di Pasar Komoditas Internasional

Rusia berstatus sebagai eksportir aluminium terbesar kedua di dunia setelah Kanada. Tak heran jika perang mengakibatkan harga komoditas aluminium di COMEX New York mencapai rekor tertinggi sepanjang masa. Tapi, sebagaimana besi-baja, banyak negara lain yang siap dan dapat menggantikan Rusia.

  • Logam Mulia

Harga emas meroket lagi sampai tembus USD2000 per troy ounce dalam hitungan hari setelah dimulainya invasi Rusia ke Ukraina, karena banyak orang membutuhkan fungsi emas sebagai aset “safe haven” di tengah rumor Perang Dunia III. Namun, pasar logam mulia yang paling terdampak sebenarnya adalah platinum dan paladium.

Platinum dan paladium berperan penting sebagai bahan perhiasan, peralatan medis, dan komponen elektronika. Pasokan semikonduktor yang sudah minim sejak pandemi pun berpotensi makin langka. Alhasil, perang Rusia-Ukraina dapat mengakibatkan gangguan produksi berbagai produk seperti otomotif, microwave, dan gadget.

Tagged With :

Leave a Comment