Pelepasan 20% Saham Vale Indonesia Dimulai

JAKARTA – Sejak 29 November 2018, PT Vale Indonesia Tbk (INCO) telah memulai proses divestasi 20 persen saham kepada peserta Indonesia. Pelepasan saham tersebut menyusul amendemen kontrak karya 2014.

“Perseroan memberikan informasi pada Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) bahwa perseroan resmi memulai divestasi,” kata Sekretaris Perusahaan Vale Indonesia Cut Fika Lutfi dalam keterangan resmi, Kamis (10/1).

Surat yang disampaikan kepada Menteri ESDM, lanjut Fika, merupakan refleksi atas komitmen tata kelola perusahaan yang baik terhadap kesepakatan yang ada. “Sampai hari ini belum ada informasi atau kejadian penting lainnya yang bisa mempengaruhi perusahaan dan harga saham,” jelas dia.

Divestasi tersebut sejalan dengan ketentuan pemerintah, dimana perusahaan pertambangan dan pengolahan integrasi harus mendivestasikan 40% saham kepada peserta Indonesia. Perseroan juga harus mengakui 20% saham yang dimiliki oleh pemegang saham publik melalui Bursa Efek Indonesia (BEI).

Proses divestasi ini dilakukan dalam kurun lima tahun. Ketentuan divestasi sebesar 20% dalam lima tahun tersebut sesuai dengan perubahan ketiga atas Peraturan Pemerintah No 23 tahun 2010 tentang Pelaksanaan Kegiatan Usaha Pertambangan Mineral dan Batu Bara yang dikeluarkan pada 14 Oktober 2014

Sebelumnya, Anggota Komisi VII DPR RI, Ahmad M Ali, menyoroti tentang adanya renegosiasi kembali saham PT Vale Indonesia untuk ditawarkan kepada pemerintah.

Ahmad Ali mengungkapkan, amandemen kontrak karya juga menyebutkan berkaca dari proses divestasi saham PT Freeport Indonesia, sudah waktunya tambang nikel PT Vale dikuasai mayoritas oleh Indonesia.

Ia menjelaskan kondisi saat ini bahwa pembayaran royalti dinaikkan dari 0,9% menjadi dua persen, dan menjadi tiga persen jika harga nikel menyentuh US$ 21.000 per ton.

Klausul ini dinilainya kurang tepat, karena menurutnya pada saat booming komoditasdengan harga komoditas mineral mencapai titik tertingginya pada 2011, harga nikel dunia tak menyentuh level US$ 21.000. Angka tersebut dinilainya terlalu tinggi dan tak mengacu pada konteks faktual harga komoditas nikel sepanjang sepuluh tahun terakhir, yang ditandai oleh berakhirnya era “booming” komoditas.
Selain itu, kata dia, hingga saat ini Vale tak kunjung menawarkan saham 20 persen kepada pihak Indonesia. Pembangunan smelter di Bahodopi dan Pomalaa juga realisasinya tersendat.
Memasuki akhir tahun, pada periode triwulan ketiga tahun 2018, PT Vale Indonesia memproduksi nikel sebanyak 18.193 metrik ton atau di bawah target. (*)

 

Tinggalkan sebuah Komentar