Parlemen Inggris Mundurkan Deadline Brexit, Pound Melorot

Inggris tak jadi keluar dari Uni Eropa pada tanggal 29 Maret seperti rencana semula. Hasil voting Parlemen Inggris–412 banding 202–sepakat untuk memundurkan tenggat waktu keluarnya Inggris dari Uni Eropa. Belum ada keterangan sampai kapan waktu pengunduran deadline Brexit tersebut.

Namun, menurut keterangan PM Theresa May yang dilansir dari BBC, deadline Brexit dapat diundur hingga tiga bulan sejak bulan ini. Artinya, Inggris dapat resmi keluar dari Uni Eropa hingga tanggal 30 Juni 2019. Akan tetapi, kesepakatan tenggat waktu itupun juga memerlukan persetujuan dari parlemen Inggris melalui voting minggu depan. Hasil voting tersebut pun nantinya harus disetujui pula oleh 27 negara anggota Uni Eropa.

Banyak pihak yang mengekspektasikan bahwa para pejabat Uni Eropa di Brussels akan menyetujui penundaan tenggat waktu Brexit. Namun, mereka tetap waspada bahwa persetujuan dari Uni Eropa tersebut tidaklah “cuma-cuma”. Para pemimpin UE akan bertemu pada 21 Maret untuk membahas apakah akan memberikan perpanjangan pada Brexit kepada Inggris.

 

Pound Melorot Dari Level Tinggi

Kabar tersebut membuat Poundsterling melemah karena artinya, ketidakpastian kembali merebak. GBP/USD mundur 0.6 persen ke 1.3230, tak melanjutkan kenaikan yang terbentuk pasca kemenangan mosi untuk tidak mengeluarkan Inggris dari Uni Eropa tanpa kesepakatan (No Deal) di parlemen Inggris kemarin. Sedangkan EUR/GBP menguat tipis 0.31 persen ke 0.8535.

“Dengan ketidakpastian yang meliputi Brexit, saat ini bukan waktu yang tepat … untuk mengambil posisi dalam porsi besar. Metode Risk-Reward masih digunakan sembari menunggu kejelasan,” papar Charles Tomes, analis Senior di Manulife Asset Management.

Namun demikian, menurut analisis Goldman Sachs, Sterling dapat menekan Euro ke level 0.80 apabila Brexit dimundurkan dalam jangka waktu yang lama. “Kami masih pada pandangan bahwa Pound akan menguat begitu Inggris masuk dalam periode transisi yang panjang dalam prosesnya untuk keluar dari Uni Eropa,” kata George Cole, analis dari Goldman Sachs.

Tinggalkan sebuah Komentar