Panduan Latihan Investasi untuk Anak-anak

Pada umur berapa kita perlu mulai berinvestasi? Ada yang mengatakan kita perlu berinvestasi segera setelah mendapatkan gaji pertama. Tapi sebenarnya tak ada salahnya juga berlatih investasi sejak dini, atau sejak masih duduk di bangku sekolah.

Anak-anak umumnya memang masih bergantung pada uang saku dari orang tua. Namun, anak-anak juga biasanya memperoleh “rejeki nomplok” dalam event-event tertentu seperti hadiah ulang tahun atau angpao hari raya. Daripada rejeki itu dihabiskan untuk membeli konsol game atau jalan-jalan dengan kawan, bukankah lebih baik jika diinvestasikan!?

Panduan Latihan Investasi untuk Anak-anak

Orang tua dapat melatih anak-anaknya berinvestasi sejak masih pelajar. Demikian pula, anak-anak dapat berlatih investasi sendiri sejak masih berstatus pelajar. Bagaimana caranya? Coba empat (4) tips berikut ini:

  • Pelajari Kalkulator Return Investasi

Anak-anak sering diajari pepatah “rajin menabung pangkal kaya”. Padahal, itu salah kaprah. Uang tabungan di bank justru akan habis terpakai biaya administrasi saja tanpa imbal hasil apa-apa. Ada baiknya mulai mengajari anak-anak untuk bersikap realistis.

Caranya yaitu dengan menunjukkan kalkulator return investasi yang dapat dibuat sendiri pada Excel Spreadsheet atau dicari secara online. Umpamanya anak memperoleh angpao sebesar Rp500 ribu setiap hari raya. Tunjukkan padanya berapa uang yang akan ia miliki beberapa tahun yang akan datang jika dana Rp500 ribu itu didepositokan dengan bunga 5 persen per tahun atau dibelikan reksa dana pendapatan tetap dengan proyeksi return 12 persen per tahun.

  • Berikan Hadiah Emas Batangan

Emas batangan saat ini telah banyak diperjualbelikan dengan pecahan kecil, mulai dari 0.1 gram saja. Harga emas 0.1 gram mungkin setara dengan jajan di mall satu kali, tetapi nilai uangnya tersimpan untuk jangka waktu lama (berbeda dengan jajan di mall yang akan berakhir dalam sekejap).

  • Ajari Bisnis Kecil-kecilan
Baca Juga:   Kurs Dollar Hari Ini - Rabu, 13 Mei 2020

Anak-anak seringkali lebih menyukai gratifikasi instan daripada bersabar untuk memperoleh hasil berlipat ganda di kemudian hari. Hal ini dapat dikendalikan dengan mengajarinya bisnis kecil-kecilan, baik dalam bentuk berjualan makanan ringan ataupun sekedar memberikan imbalan untuk pekerjaan rumah seperti mencuci pakaian.

  • Beri Wawasan tentang Saham

Saham memang termasuk aset berisiko tinggi. Tapi saham juga merupakan awal yang bagus bagi pemula untuk mulai mengenal dunia investasi. Anak-anak mungkin terlalu dini untuk mengenalnya, tetapi remaja usia SMA semestinya sudah dapat memahami konsep dengan tepat. Apabila sudah mampu memilih perusahaan yang bagus dan memahami konsep kepemilikan saham, selanjutnya dapat melangkah ke aset-aset investasi lain seperti reksa dana dan obligasi.

Tagged With :

Leave a Comment