OPEC Pangkas Produksi, Harga Minyak Melesat 3 Persen

PADA penutupan perdagangan, Jumat (18/1), harga minyak dunia naik 3 persen. Setelah Organisasi Negara-negara Pengeskpor Minyak (OPEC) merinci kegiatan pengurangan produksi untuk meningkatkan harga pasokan minyak di tahun ini, harga minyak mampu naik tinggi. Selain itu, adanya titik cerah pada penyelesaian perang dagang antara AS dengan China juga menjadi katalis kenaikan harga minyak.

Dilansir Reuters, Sabtu (19/1), harga minyak mentah jenis Brent naik USD 1,64 atau 2,7 persen menjadi USD 62,82 per barel. Sedangkan harga minyak mentah berjangka AS atau West Texas Intermediate (WTI) naik USD 1,70 atau 3,3 persen menjadi USD 53,77 per barel.

OPEC mengeluarkan daftar pengurangan produksi minyak oleh para anggotanya dan produsen utama lainnya selama enam bulan. Pengurangan tersebut telah dijalankan pada 1 Januari. Dirilisnya daftar pengurangan produksi tersebut untuk meningkatkan kepercayaan pada pakta pengurangan pasokan minyak.

“Ini akan mengirim sinyal ke pasar bahwa mereka serius. Saya pikir OPEC juga ingin menunjukkan bahwa mereka mungkin akan sangat patuh dengan angka-angka ini, terutama Arab Saudi,” kata Phil Flynn, Analis Price Futures Group, Chicago, AS.

OPEC dan beberapa negara lain termasuk Rusia pada Desember 2018 sepakat untuk kembali mengurangi produksi, sebesar 1,2 juta barel per hari. Hal ini untuk mendukung harga minyak dan memerangi kelebihan pasokan yang tengah meningkat, terutama dari AS.

Pada perdagangan sebelumnya, harga minyak sempat turun 2 persen. Penurunan tersebut memperpanjang penurunan yang terjadi baru-baru ini di tengah kekhawatiran tentang melonjaknya produksi minyak AS dan permintaan global yang menurun.

Dalam laporan bulanannya, OPEC memangkas perkiraan permintaan rata-rata minyak mentah pada 2019 menjadi 30,83 juta barel per hari, turun 910.000 barel per hari dari rata-rata 2018.

OPEC mengatakan produksinya turun 751.000 barel per hari pada Desember 2018, menunjukkan upaya untuk memenuhi persyaratan pakta untuk memotong produksi antara negara-negara dan produsen lain, termasuk Rusia.

Meskipun OPEC dan eksportir sekutunya memangkas produksi, output minyak AS justru melonjak mendekati 12 juta barel per hari pada pekan terakhir. Sejumlah pedagang dan investor khawatir bahwa pertumbuhan pasokan global tahun ini akan melebihi permintaan.

Thomas Saal, Wakil Presiden Senior INTL Hencorp Futures di Miami mengatakan, hal itu akan membebani pasar. “Paling tidak, sampai kita mendapatkan beberapa informasi baru, termasuk dari OPEC.”

Tetap saja, kata Saal, investor sudah memperkirakan peningkatan produksi AS dan memberi harga ke pasar, “Jadi itu sebabnya harga turun sedikit dan tidak turun banyak,” jelasnya.

Tinggalkan sebuah Komentar