Microsoft (MSFT) Tumbuh Positif, Apakah Akan Terulang?

Sejak akhir tahun 2017, nilai saham Microsoft (MSFT) telah bertambah lebih dari $800 juta di pasar saham, sedangkan valuasi perusahaan sampai saat ini mendekati $1.5 triliyun. Angka ini lebih besar dari gabungan 120 perusahaan kecil di S&P 500. Selain itu, hanya ada tiga perusahaan lain yang terdaftar di bursa efek memiliki nilai $800 milyar atau lebih hingga saat ini. Bagaimana Microsoft bisa sampai ke angka ini? Dari manakah sumber pertumbuhan kinerja Microsoft?

Catatan Kinerja Microsoft (MSFT) 3 Tahun Terakhir

Banyak yang mungkin bertanya, apa yang sudah dilakukan Microsoft (MSFT) hingga valuasi dan nilai sahamnya meningkat cukup tajam dalam beberapa tahun terakhir. Microsoft mencatat kenaikan pendapatan total lebih dari $29 milyar antara tahun fiskal 2017 dan 2019 (tahun fiskal dihitung per akhir Juni setiap tahunnya). Artinya, perusahaan mencatat kenaikan lebih dari 30% dalam waktu 2 tahun. Margin-nya juga meningkat dari sekitar 26% menjadi + 30%, sehingga Pendapatan Netto perusahaan naik dari $25,5 milyar menjadi $39,2 milyar, dan kenaikan laba tahunan untuk investor mencapai $14 milyar.

Microsoft (MSFT)

Jika laba inkremental tersebut dikalikan 57 kali, maka nilai kenaikannya sama dengan $800 milyar antara tahun 2017 hingga sekarang. Secara keseluruhan, rasio Harga – Pendapatan (rasio P/E) Microsoft naik hampir 25 kali lipat di akhir tahun 2017 dan sekitar 40 kali lipat saat ini setelah perusahaan bergerak ke layanan cloud dan terjadinya kenaikan penjualan software berlangganan. Di mata investor, angka-angka ini cukup stabil dan menarik.

Dari manakah datangnya pendapatan yang tumbuh hingga $29 milyar tersebut? Secara singkat, ada tiga aspek yang mendorong naiknya harga saham Microsoft (MSFT) hingga 150% dalam 3 tahun terakhir.

  • Intelligent cloud. Layanan berbasis cloud ini menjual produk server publik, privat, maupun hybrid, serta layanan cloud terkait lainnya. Pendapatan dari segmen ini naik sebesar $11.6 milyar, atau setara dengan 42%.
  • Produktivitas dan proses bisnis, termasuk produk Office, LinkedIn, dan solusi enterprise berbasis cloud yang ditawarkan Microsoft. Pendapatan dari segmen ini naik sebesar $11.3 milyar, atau tumbuh 38%.
  • Layanan Computing yang lebih personal, termasuk penjualan sistem operasi, perangkat, layanan game, dan produk pencarian. Pendapatan dari segmen ini naik sebesar $6.4 milyar, atau tumbuh 16%.
Baca Juga:   Wall Street Menguat Pada Perdagangan Selasa (28/5)

Potensi Pertumbuahn Microsoft (MSFT) 3 Tahun Ke Depan

Banyak yang mempertanyakan apakah Microsoft (MSFT) akan kembali mencatat kinerja yang sama dalam 3 tahun ke depan? Jika pendapatan Microsoft bisa tumbuh sekitar 40% antara Tahun Fiskal 2019 dan 2020 (atau setara dengan pertumbuhan rata-rata 12% per tahun, maka penghasilan perusahaan juga akan tumbuh sebesar 40%. Meski demikian, angka 12% per tahun ini masih lebih rendah dibanding pertumbuhan rata-rata mencapai 15% per tahun dalam 2 tahun terakhir.

Jika penghasilan tumbuh 40%, maka perkalian rasio P/E akan berkurang dengan jumlah yang sama (sekitar -30%) dengan asumsi bahwa harga saham tetap sama. Namun, para investor yakin hal itu tidak akan terjadi. Jika penghasilan tumbuh 40% hingga Tahun 2022, yang terjadi bukanlah penurunan P/E dari 40 kali lipat menjadi 30 kali lipat. Namun, skenarionya adalah perkalian P/E turun menjadi 35 kali lipat atau sama dengan kondisi saat ini.

Banyak investor merasa optimis bahwa Microsoft (MSFT) akan mampu mempertahankan kinerjanya seperti saat ini. Pertumbuhan penghasilan sebesar 40% setara dengan kenaikan inkrementasi sebesar $600 milyar pada valuasi Microsoft, sehingga menjadi $2.1 trilitun lebih dalam beberapa tahun ke depan.

Dari Manakah Pertumbuahn Microsoft (MSFT)?

Lalu, muncul pertanyaan baru, “Segmen manakah yang akan mempertahankan pertumbuhan pendapatan Microsoft dalam beberapa tahun ke depan?” Sepertinya tidak akan ada hambatan berarti dalam pertumbuhan Microsoft, terutama di segmen layanan berbasis cloud. Bahkan, pandemi Covid-19 diperkirakan ikut mendorong peningkatan permintaan terhadap solusi berbasis cloud dari Microsoft, yakni Azure, karena banyak bisnis yang beroperasi online dan karyawannya bekerja dari rumah.

Selama Kwartal 3 Tahun 2020, pendapatan Azure tumbuh sebesar 59%. Angka ini menempatkan Azure di posisi pertama pada layanan komputasi berbasis cloud yang pertumbuhannya paling cepat. Momentum ini diperkirakan akan terus berlanjut hingga Kwartal keempat tahun ini. Meskipun tatanan new normal telah diberlakukan di hampir seluruh negara, himbauan social distancing masih berlanjut dan masih banyak karyawan (terutama yang berusia di atas 45 tahun dan kelompok yang beresiko tertular Covid-19) masih bekerja dari rumah.

Baca Juga:   Istilah Saham Indonesia yang Perlu Diketahui Pemula

Segmen produktivitas dan proses bisnis juga diperkirakan akan terus tumbuh. Banyak orang yang bekerja dari rumah. Akibatnya, perusahaan akan berinvestasi lebih banyak untuk software kolabori dalam rangka mendorong produktivitas dan memberdayakan tenaga kerja yang bekerja dari jarak jauh. Permintaan terhadap produk-produk seperti Microsoft Office dan Microsoft Dynamics diperkirakan akan meningkat. Singkatnya, perusahaan merasa optimis bahwa Microsoft mampu mencapai transformasi digital setara 2 tahun hanya dalam waktu 2 bulan.

Meskipun Microsoft (MSFT) menunjukkan potensi yang menjanjikan di mata investor, tetap ada yang mempertanyakan apakah perusahaan mampu mempertahankan kinerjanya di atas investasi yang berlandaskan hutang? Tentunya, banyak aspek yang akan mempengaruhinya kelak, karena pada dasarnya, pasar saham tidak bisa diprediksi secara akurat.

Tagged With :

Leave a Comment