Menghindari Kerugian P2P Lending Dengan Cara Bijak: Part 1

Peer-to-peer (P2P) lending adalah model baru simpan-pinjam yang didukung teknologi finansial (FinTech). Layanan ini memungkinkan mereka yang membutuhkan modal tambahan untuk mendapatkan pinjaman dengan cara yang lebih mudah. Namun, P2P lending tetap diikuti potensi kerugian. Untungnya, tetap ada beberapa kiat yang bisa anda lakukan untuk menghindari kerugian P2P lending. Kehati-hatian tetap menjadi kunci utamanya.

Strategi Untuk Menghindari Kerugian P2P Lending

Tujuan utama anda bergabung dengan situs P2P lending pastinya untuk mendapatkan keuntungan, bukan? Bagaimana jika justru kerugian yang datang? Berikut adalah beberapa trik untuk menghindari kerugian P2P lending yang bisa anda coba:

menghindari kerugian P2P Lending

Pastikan Investasi Anda Bukan ‘Taruhan’

Sistem lending peer-to-peer memungkinkan lebih banyak orang maupun unit usaha untuk berpartisipasi. Tentu saja, tidak mudah mengetahui track record maupun portofolio orang yang menjadi calon nasabah anda.  Namun, pastikan anda tidak memberikan pinjaman kepada sebuah perusahaan jika anda belum mendapatkan informasi tentang profitabilitas, neraca, atau struktur modalnya. Hal semacam ini sering terjadi, terutama pada situs yang menawarkan keuntungan sangat tinggi.

Banyak investor yang memberikan pinjaman hanya karena foto-foto yang cantik atau komentar meyakinkan dari pengelola situs P2P. Jika dasar anda hanya itu, maka itu bukanlah investasi, melainkan sekedar taruhan. Bisa saja, perusahaan yang anda beri pinjaman sebenarnya tidak memiliki penghasilan atau asset sama sekali. Jika demikian, maka kemungkinan kredit macet sangatlah tinggi.

Pertimbangkan Lokasi

Investasi P2P lending masih sangat baru. Model investasi ini bermula di United Kingdom. Sejauh ini, kerangka kebijakan tingkat lanjut baru ada di UK. Sementara itu, negara-negara lain di Eropa dan Amerika, dan bahkan Asia mulai mengikuti. Jadi, tidak ada salahnya anda mempertimbangkan lokasi di mana P2P lending tersebut berada. Di Indonesia, memang belum ada regulasi yang pasti tentang investasi P2P, namun ada daerah-daerah tertentu di mana model investasi ini sudah berkembang.

Baca Juga:   9 Situs P2P Lending Indonesia Terbaik dan Terpercaya yang terdaftar OJK
Hati-Hati dengan Janji Manis

Beberapa orang ikut dalam investasi P2P lending karena mereka dijanjikan bahwa mereka bisa menjual kembali investasi tersebut dengan kerugian yang sangat minim (biasanya hanya 5 hingga 10%). Apakah ini masuk akal? Pinjaman macet tanpa agunan kepada badan usaha pastinya beresiko tinggi. Perusahaan mana yang akan mau mengganti investasi anda jika ternyata kredit tersebut macet?

Jadi, jika ada perusahaan atau website P2P lending yang menjamin uang anda akan selalu kembali, sebaiknya anda berhati-hati. Jadikan janji-janji manis dari perusahaan atau website P2P lending sebagai lampu merah.

Tidak Ada Hadiah Yang Datang Terlalu Cepat

Anda pastinya sering didekati oleh situs investasi P2P baru atau yang masih dalam tahap pengembangan. Perusahaan semacam ini biasanya memiliki sedikit investor dan beberapa karyawan. Apakah anda akan berinvestasi pada situs semacam ini? Bisa saja, jika anda benar-benar tahu profil orang yang menjalankannya. Namun, harus diingat bahwa tidak ada hadiah yang datang terlalu cepat. Artinya, bagi situs investasi P2P yang masih baru berdiri, tidak masuk akal jika mereka menawarkan bonus atau keuntungan yang besar.

Jadi, sebaiknya pantau situs tersebut dan lihat bagaimana cara kerhanya. Bagaimana kinerja simpan-pinjam di perusahaan tersebut? Apakah perusahaan tersebut beroperasi dengan baik? Pastinya, ada banyak pertanyaan yang mesti terjawab sebelum anda memutuskan untuk bergabung dan berinvestasi pada sebuah situs investasi P2P.

Tanyakan Diri Sendiri

Ada kalanya anda harus menanyakan kata hati jika anda ingin menghindari kerugian P2P Lending. Apakah pinjaman tersebut masuk akal? Apakah calon peminjam akan patuh dengan syarat dan ketentuan pinjaman? Dibutuhkan waktu setidaknya 12-18 bulan untuk membangun dan menjual sebuah properti. Jika masa kredit hanya 9 bulan, maka itu adalah bendera merah.

Baca Juga:   Fakta atau Mitos Seputar Layanan Peer to Peer (P2P) Lending

Sebagian besar developer bekerja dengan margin yang sangat ketat. Hampir mustahil bagi mereka untuk membayar bunga hingga 20%. Cobalah lihat dari sudut pandang peminjam, maka anda akan memahami kenapa mereka tidak akan bisa mengembalikan pinjaman tersebut.

Selain itu, bunga pinjaman P2P cenderung lebih tinggi dibanding bunga bank. Fikirkan kembali, “Mengapa mereka tidak meminjam ke bank?” Pasti ada alasan lain. Bisa jadi mereka memiliki riwayat kredit macet. Jadi, sebaiknya periksa profil calon peminjam sebelum anda memberikan pinjaman.

Antisipasi Kredit Macet

Kredit macet selalu terjadi di mana saja, termasuk di bank. Kredit macet adalah hal normal. Litigasi juga normal. Yang tidak normal adalah portofolio P2P lending dengan bunga tinggi namun tidak pernah ada masalah dengan peminjam. Jika situs investasi P2P melaporkan kredit macet nol persen, maka itu adalah tanda bahaya. Mustahil sebuah perushaaan kredit tidak memiliki riwayat ini. Bukan berarti bahwa kita mendoakan investor merugi. Namun, masalahnya adalah bisa saja situs investasi belum melaporkan kondisi yang sesungguhnya.

Pastikan anda mendapatkan strategi lain untuk menghindari kerugian P2P Lending pada artikel selanjutnya.

Tagged With :

Leave a Comment