Kinerja Pasar Membaik, Dana Kelolaan Industri Reksadana Bisa Capai Rp 550 T

 

JAKARTA – Di sepanjang 2018, dana kelolaan industri reksadana berhasil tumbuh di tengah kinerja aset yang cenderung negatif. Tahun ini diprediksi dana kelolaan reksadana masih akan bertumbuh dan diproyeksikan mencapai Rp 550 triliun.

Berdasarkan data Infovesta Utama, dana kelolaan industri reksadana di luar reksadana penyertaan terbatas dan dollar AS tumbuh 9,7% di sepanjang 2018, jumlahnya menjadi Rp 483 triliun.

“Dana kelolaan reksadana tetap tumbuh menandakan investor tidak terpengaruh melainkan tetap berinvestasi meski kinerja pasar yang negatif,” kata Head of Investment Research Infovesta Utama Wawan Hendrayana.

Head of Business Development Division Henan Putihrai Asset Management (HPAM) Reza Fahmi menambahkan, dana kelolaan reksadana tetap tumbuh didorong oleh faktor minat masyarakat pada industri pasar modal yang semakin tinggi.

“Terutama di kelas ekonomi menengah dan milenial,” kata Reza, Kamis (10/1).

Selain itu, Reza mencatat, pada tahun 2018, jumlah investor reksadana tumbuh pesat, yaitu 40%. Tak ketinggalan, dana kelolaan industri reksadana tumbuh juga didorong akibat semakin banyaknya pihak yang menjual reksadana, seperti marketplace dan start up yang menjadi agen penjual reksadana (APRED).

“Di tahun 2019, dana kelolaan industri reksadana bisa tumbuh mengarah ke Rp 550 triliun. Hal ini didukung dari membaiknya kinerja pasar saham dan obligasi,” ujarnya.

Sentimen positif yang mendukung kinerja aset di tahun ini adalah tinkat kenaikan suku bunga yang tidak seagresif seperti di tahun lalu. “Kenaikan suku bunga terbatas jadi risiko pasar saham jatuh dalam seperti tahun lalu lebih kecil,” kata Wawan.

Pertumbuhan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di tahun ini, Wawan prediksikan sebesar 9%-10%. Sementara, untuk pasar obligasi dengan kenaikan tingkat suku bunga yang terbatas bisa menaikkan harga obligasi pemerintah sehingga bisa memberikan rertun yang lebih baik. “Kupon yang diberikan obligasi tahun ini sudah besar dan potensi harga obligasi turun kecil,” kata Wawan.

Jika suku bunga di tahun ini masih naik, Wawan memproyeksikan pasar obligasi bisa memberikan return 6%. Namun, jika suku bunga tetap potensi return yang diterima bisa mencapai 8%.

Reza menambahkan industri reksadana akan bertumbuh karena volalitilitas di tahun ini akan lebih terjaga. Hal ini didukung data inflasi yang terkendali dan dalam level rendah. Sehinnga emitan bisa membukukan penjualan dan profit yang tinggi.  Reza memproyeksikan reksadana saham juga kembali menyumbang dana kelolaan terbesar di tahun ini.

“Dalam sejarah tahun pemilu, reksadana selalu tumbh positif di tahun politik,” kata Reza. (*)

 

Tinggalkan sebuah Komentar