Kesehatan Mental di Tempat Kerja: Antara Harapan dan Realita

XM broker promo bonus

Di tengah tekanan kerja yang semakin tinggi, isu kesehatan mental di tempat kerja semakin banyak dipertimbangkan. Berita baiknya, semakin banyak perusahaan yang menyediakan tunjangan khusus untuk kesehatan mental karyawan, seperti cuti, liburan yang ditanggung perusahaan, family gathering, dan semacamnya. Namun, apa sebenarnya yang diinginkan pekerja?

Menurut para ahli, ada suatu harapan agar perusahaan bertanggung jawab dan mengambil langkah-langkah strategis untuk meningkatkan stabilitas emosional karyawan. Meskipun perhatian terhadap tunjangan kesehatan mental sudah muncul sebelum pandemi, tantangan yang terjadi dalam beberapa tahun terakhir menjadikan isu kesehatan mental di tempat kerja semakin menjadi pusat perhatian.

kesehatan mental di tempat kerja

Menurut teorinya, dukungan adalah tindakan yang sifatnya terus-menerus. Namun, kondisinya tidaklah semudah itu. Ketika karyawan menerima tunjangan baru, tidak ada jaminan kalau kesehatan mentalnya otomatis meningkat. Saat program ini dilaksanakan di perusahaan, faktanya adalah semakin sulit menangani urusan kesejahteraan pegawai.

Kesehatan Mental di Tempat Kerja: Bagaimana Faktanya?

Dalam beberapa tahun terakhir, banyak perusahaan yang mulai menambahkan aspek kesehatan mental ke dalam paket tunjangan yang diterima pegawainya. Selama pandemi, tawaran-tawaran tersebut semakin meningkat. Menurut laporan Employee Wellness Industry Trends Tahun 2021 yang dikeluarkan Wellable, 88% perusahaan di Amerika Serikat menambah investasi untuk kesehatan mental karyawannya.

Lebih 80% perusahaan menggunakan anggaran tersebut untuk manajemen stress dan lebih separuh dari perusahaan yang berpartisipasi dalam survey tersebut menawarkan program meditasi bagi karyawannya. Laporan tersebut menunjukkan bahwa program-program semacam ini semakin populer dalam beberapa tahun terakhir. Tantangan unik akibat Covid-19 hanyalah mempercepat trend yang sudah ada.

Kehilangan orang yang dicintai, isolasi, hilangnya pendapatan, dan ketakutan semuanya dapat memicu masalah-masalah kesehatan mental atau memperburuk kondisi yang sudah ada. Banyak kebijakan yang harus berubah untuk menyesuaikan diri dengan pandemi. Perusahaan menaikkan anggaran tunjangan, tunjangan anak, dan bahkan jatah cuti karyawan. Namun, meskipun perusahaan sudah menyadari perlunya tunjangan kesehatan mental dan telah memberikan lebih banyak tunjangan bagi karyawannya, sesi terapi telehealth, atau program hiburan, tidak ada garansi bahwa kesehatan mental karyawan akan membaik.

Baca Juga:   Membangun Tim Kerja Dari Jauh, Membangun Pelayanan Prima

Kesehatan Mental di Tempat Kerja: Apa Yang Terjadi?

Di banyak lingkungan kerja, ada semacam pemisah antara urusan personal dan profesional. Stigma tersebut membuat karyawan enggan menyampaikan masalahnya kepada bos maupun rekan kerja. Mereka takut kalau tidak mendapat pekerjaan atau tidak mendapat promosi jika membicarakannya. Karyawan mungkin khawatir kalau kunjungan virtual ke seorang therapist pun tidak bisa disembunyikan selamaya.

Banyak karyawan yang merasa tidak nyaman mengikuti workshop atau seminar bersama rekan-rekan jika boss mereka juga ikut mendengarkan. Mereka enggan terbuka kepada rekan kerjanya. Kalaupun iya, mereka tidak akan melakukannya pada acara yang dilaksanakan oleh perusahaan, seperti workshop.  Sederhananya, karyawan tidak mau mengambil program kesehatan tersebut karena mereka menganggapnya tidak banyak membantu.

Kesehatan Mental di Tempat Kerja: Apa Yang Harus Dilakukan?

Tetap saja, sumber daya yang dialokasikan untuk program kesehatan mental di tempat kerja adalah hal positif. Namun, meskipun program ekstra tersebut bagus, hal yang benar-benar diperlukan karyawan adalah langkah-langkah untuk mengatasi akar masalah yang dapat memicu masalah kesehatan mental. Memang bagus jika perusahaan menyediakan seorang tenaga khusus untuk membantu karyawan yang mengalami stress.

Namun, akan lebih penting lagi jika perusahaan mengatasi akar masalahnya terlebih dahulu, yakni menciptakan suatu lingkungan kerja yang mendukung. Jika masalahnya tidak diatasi, sama saja anda menutupinya. Artinya, menerapkan kebijakan proaktif seperti jam kerja yang fleksinel dan membangun hubungan baik di antara karyawan dan manajemen justru lebih penting.

Selain itu, diperlukan evaluasi secara rutin untuk melihat apakah keseimbangan antara beban kerja dan sumber daya yang dimiliki karyawan untuk menyelesaikannya masih terjaga. Semuanya berpengaruh terhadap tingkat stress dan kelelahan yang dialami pegawai. Semua perusahaan bisa saja menggalakkan program kesehatan mental, namun lebih bersifat reaktif, bukan proaktif. Ketika anda menawarkan program kesehatan mental karena melihat ada karyawan yang mengalami masalah, namun anda tidak mengurangi beban kerjanya, maka stress yang dialami justru semakin buruk.

Baca Juga:   VPS Hosting Terbaik

Kesehatan Mental di Tempat Kerja: Kesimpulan

Dalam sebuah penelitian terbaru, tim riset Harvey menemukan enam kriteria untuk membentuk sebuah organisasi yang kondusif, mulai dari keseimbangan hidup dan pekerjaan hingga bagaimana menyelamatkan karyawan yang merasa enggan menyampaikan kondisi kesehatan mentalnya kepada rekan kerja atau pemimpin. Di sebuah organisasi yang suportif, kejadian masalah kesehatan mental cenderung turun hingga 40%, dan masalah stress di tempat kerja bisa lebih mudah diatasi.

Di lain pihak, perusahaan yang fokus menciptakan sebuah budaya organisasi yang suportif bisa melihat kalau karyawan mau menggunakan tunjangan yang ditawarkan perusahaan. Di sebuah organisasi yang suportif, karyawan merasa lebih santai saat berbicara tentang kesehatan mental, dan mereka tahu kemana minta bantuan dan nasehat.

Tagged With :

Leave a Comment