Investor Menilai Inflasi AS Dapat Memicu Resesi, Wall Street Ditutup Melemah

Pada perdagangan Jumat (14/10/2022), Indeks saham Amerika Serikat (AS), Wall Street ditutup melemah tajam. Hal itu seiring pengamatan investor terkait tingkat inflasi yang memburuk, sehingga sinyal resesi ekonomi yang semakin kuat.

Mengutip Reuters, Senin (17/10), indeks bursa AS seperti Dow Jones Industrial Average (.DJI) turun 403,89 poin atau 1,34 persen menjadi 29.634,83. S&P 500 (.SPX) kehilangan 86,34 poin atau 2,37 persen menjadi 3.583,07. Nasdaq Composite jatuh 327,76 poin atau 3,08 persen, menjadi 10.321,39 poin.

Di mana pada Kamis (13/10) lalu, data harga konsumen (CPI) menunjukkan inflasi September 2022 tetap tinggi yakni mencapai 8,2 persen secara tahunan (year on year) dan secara bulanan (month on month) sebesar 0,4 persen.

Angka tersebut lebih tinggi dari perkiraan para analis dan ekonom, yang memperkirakan inflasi pada September 2022 hanya akan menyentuh 8,1 persen.

Sehingga hal tersebut, membuat ebagian besar pejabat Fed serentak mengomentari perlunya menaikkan suku bunga. Dalam wawancara dengan Reuters, Presiden Fed St. Louis James Bullard mengatakan data inflasi baru-baru ini akan melanjutkan beban, sebesar tiga perempat poin persentase yang lebih tinggi.

“Daya dorong utama pasar saat ini adalah suku bunga dan inflasi yang lebih tinggi, serta The Fed akan terus menaikkan target Fed Fund lebih tinggi,” kata Anthony Saglimbene, kepala strategi pasar di Ameriprise Financial Troy, Michigan.

Selain itu investor juga masih menunggu laporan keuangan emiten di kuartal III 2022. Analis saat ini memprediksi laba kuartal ketiga untuk perusahaan S&P 500 meningkat hanya 3,6 persen dari tahun 2021, jauh lebih rendah dari lonjakan 11,11 persen pada awal Juli, menurut data Refinitiv.

DIPREDIKSI MELEMAH

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diprediksi melemah pada perdagangan hari Senin (17/10). Indeks saham pada pekan lalu menurun 3,02 persen atau ditutup berada posisi 6.814,530 atau dari level 7.026,783 pada penutupan pekan sebelumnya.

Research Analyst Artha Sekuritas Indonesia Dennies Christopher memperkirakan support IHSG berada di rentang 6.728 – 6.771 dan resistance di kisaran 6.900 – 6.986.

“Candlestick membentuk long black body serta lower high dan lower low dengan stochastic pada area oversold mengindikasikan tren pelemahan masih akan berlanjut,” tulis Dennies dalam risetnya, Senin (17/10).

Dennies menyebut investor akan mencermati data neraca perdagangan atau trade balance yang akan dirilis BPS Senin (17/10) pukul 11:00 WIB. Hal senada juga diprediksi oleh CEO Yugen Bertumbuh Sekuritas William Surya Wijaya, bahwa IHSG akan terkonsolidasi.

“Gelombang tekanan dalam pola gerak IHSG terlihat masih cukup besar, hal ini disertai oleh masih tercatatnya gelombang capital outflow yang terjadi selama sepekan lalu serta terjadinya pelemahan nilai tukar Rupiah,” kata William.

William mencermati jelang rilis data perekonomian neraca perdagangan pada hari ini yang disinyalir masih berada dalam kondisi stabil akan turut mewarnai pergerakan IHSG. Potensi naik dalam jangka menengah dan panjang masih terlihat, sehingga momentum tekanan masih dapat dimanfaatkan investor untuk melakukan akumulasi pembelian untuk saham – saham yang memiliki fundamental kuat dan likuiditas tinggi.

Adapun beberapa saham yang direkomendasikan Dennies, yakni PTBA dan SSMS.

PTBA

Recommendation: Specific Buy

Entry Range: 4.210 – 4.270

Buy Price: 4.260

Target Price Range: 4.340 – 4.400

Stop Loss: 4.180

SSMS

Recommendation: Specific Buy

Entry Range: 1.350 – 1.380

Buy Price: 1.375

Target Price Range: 1.450 – 1.480

Stop Loss: 1.330

 

Leave a Comment