Ini Dia 10 Perusahaan Minyak Terbesar Di Dunia

Industri migas merupakan salah satu sektor vital bagi berbagai negara produsen minyak. Dalam hal ini, perusahaan-perusahaan minyak memegang peran penting sebagai pemasok bahan bakar dan sumber energi untuk mendorong pertumbuhan ekonomi, sekaligus menyerap tenaga kerja untuk mengisi beragam lowongan di sektor migas.

Umumnya, warga Indonesia mengenal Pertamina sebagai perusahaan BUMN pengelola migas nusantara. Namun, sebenarnya banyak sekali perusahaan minyak lain yang berskala lebih besar dan memiliki peran lebih luas dalam skala internasional.

10 Perusahaan Minyak Terbesar Di Dunia

Saudi Aramco merupakan perusahaan minyak terbesar di dunia yang berpusat di Dhahran, Arab Saudi. Perusahaan ini merupakan BUMN Arab Saudi yang didirikan pada 1988 untuk mengelola sumber daya minyak di negeri tersebut dari hulu hingga hilir, serta mengelola gas alam dan petrokimi. Konon kabarnya, Saudi Aramco memiliki cadangan minyak terbesar dunia dan meraup pendapatan sekitar 465 Miliar Dolar AS per tahun dari eksplorasi dan distribusi di berbagai negara. Hingga saat ini, kepemilikannya masih berada di tangan keluarga kerajaan Saudi, tetapi sejak tahun lalu telah merebak rencana untuk mengantarkannya go public.

Selain Saudi Aramco, masih banyak perusahaan minyak raksasa lain. Secara berurutan, berikut ini merupakan daftar sepuluh perusahaan minyak terbesar dunia, berdasarkan data pendapatannya pada tahun 2017:

  1. Saudi Aramco (Arab Saudi)
  2. Sinopec Group (Cina)
  3. China National Petroleum Corporation (Cina)
  4. ExxonMobil (Amerika Serikat)
  5. Royal Dutch Shell (Belanda dan Inggris)
  6. Kuwait Petroleum Corporation (Kuwait)
  7. BP (Inggris)
  8. Total (Prancis)
  9. Lukoil (Rusia)
  10. Eni (Italia)

Dibandingkan kesepuluh perusahaan multinasional tersebut, dimanakan kiranya posisi Pertamina? Eni yang menduduki peringkat kesepuluh dalam daftar di atas mencatat pendapatan 131.82 Miliar Dolar AS pada tahun 2017. Namun, pendapatan Pertamina diestimasikan telah anjlok hingga hanya sekitar 2 Miliar Dolar AS saja pada periode yang sama.

Mengapa bisa begitu? Penyebabnya, selain karena skala usaha Pertamina lebih kecil, perusahaan BUMN ini juga menanggung beban subsidi Bahan Bakar Minyak (BBM) yang diamanatkan oleh Pemerintah Indonesia. Apalagi, Indonesia sebenarnya sudah bukan lagi termasuk negara importir minyak, melainkan negara eksportir minyak.

Tagged With :

Tinggalkan sebuah Komentar