Indikator Teknikal Terbaik Untuk Trading Minyak

Trading minyak itu susah-susah gampang. Selain karena spread dan biaya komisi broker cukup tinggi, trader umumnya juga mengalami kesulitan dalam memahami pergerakan harga minyak; berbeda halnya dengan Forex atau Emas yang relatif mudah diterka.

Salah satu sumber kebingungan utama trader terkait harga minyak adalah simpang-siurnya data penawaran dan permintaan minyak, serta pergerakan harga yang sering kali terpacu oleh rumor politis semata. Padahal, ada jalan pintas untuk memecahkannya, yaitu dengan menerapkan indikator teknikal saja.

Indikator teknikal yang mana?

Pada dasarnya, ada banyak sekali jenis indikator teknikal yang dapat digunakan, tetapi khusus bagi minyak, yang terbaik adalah Trendline (Garis Trend).

Barangkali ada trader yang akan memprotes kalau “Trendline” disebut sebagai indikator. Namun, terlepas dari apakah Trendline itu benar-benar indikator atau sekedar alat gambar, nyatanya Trendline dapat memetakan pergerakan harga minyak dengan sangat presisi, sekaligus menunjukkan posisi dimana kita bisa Buy dan Sell. Coba perhatikan ini:

Indikator Teknikal Terbaik Untuk Trading Minyak

Perhatikan betapa pergerakan harga pada grafik Brent Crude Oil (timeframe H4) mentaati garis Trendline dalam pergerakan menurunnya. Dalam situasi seperti ini, kita cukup “menghadang” harga dengan memasang Sell Limit pada garis Trendline biru; dengan ekspektasi harga akan bergerak hingga mencapai Trendline lalu jatuh lagi, sebagaimana telah terjadi berulang kali pada pergerakan sebelumnya.

Mudah sekali, bukan!?

Apabila Anda butuh konfirmasi indikator teknikal tambahan, maka dapat pula memasang indikator RSI (Relative Strength Index) atau CCI (Commodity Channel Index). Keduanya didesain sejak awal untuk perdagangan komoditas, termasuk minyak, sehingga lebih sesuai untuk mengkonfirmasi ketika Anda memiliki keraguan atau saat pergerakan harga menyimpang dari garis trend. Namun, cara penggunaannya agak berbeda dengan apabila Anda menggunakan RSI dan CCI saat trading forex atau Emas biasa.

Harga minyak memiliki kecenderungan untuk naik terus saat arus bullish masih kuat, meskipun status RSI sudah overbought. Jadi, ketika RSI sudah mapan pada posisi overbought, itu bisa jadi sinyal untuk Buy. Demikian pula sebaliknya, ketika RSI mantap oversold, maka itu justru kemungkinan sinyal untuk Sell. Agar tidak salah posisi, pastikan hanya Buy atau Sell ketika CCI berada di atas nol (0), dan Take Profit atau tutup posisi saat CCI berada di bawah nol (0).

Tagged With :

Tinggalkan sebuah Komentar