Ide Potensial Untuk Kerjasama Bank dan Fintech: Part 2

XM broker promo bonus

Post sebelumnya telah membahas dua ide kerjasama bank dan fintech, yakni jasa negosiasi tagihan dan pengelolaan layanan berlangganan (subscription). Kerjasama antara bank yang sudah lama beroperasi dengan perusahaan Fintech pemula pada intinya bertujuan untuk memberikan kemudahan bagi konsumen dalam mengelola finansialnya, termasuk pengelolaan tagihan bulanan dan layanan berlangganan yang diikuti selama ini.

Bentuk Kerjasama Bank dan Fintech Yang Potensial

Selain dua bentuk kerjasama bank dan Fintech yang sudah dibahas pada post berikutnya, berikut adalah ide kerjasama yang bisa anda rintis untuk kesuksesan bersama dan kenyamanan konsumen anda:

kerjasama bank dan fintech 2

Perlindungan dari Penyalahgunaan Data

Masalah penyalahgunaan data bukanlah hal baru dalam dunia finansial. Tidak sedikit orang yang telah menjadi korban akibat ‘kenakalan’ dari pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab. Banyak konsumen yang beranggapan bahwa datanya aman saat mengajukan permohonan pembukaan rekening, misalnya. Pada kenyataannya, kasus penyalahgunaan data justru semakin hari semakin marak.

Tentunya, semua kasus penyalahgunaan data yang ada sangat menyesakkan dada, dan tidak mudah untuk menesulurinya hingga ke pangkalnya. Berita baiknya, sebuah website dan layanan dari Breach Clarity membuat proses ini lebih mudah dan lebih baik, bagi konsumen maupun bagi pihak bank. Perusahaan ini menganalisis semua kasus penyalahgunaan data yang dilaporkan secara publik di Amerika Serikat. Perusahaan menggunakan lebih dari 1000 faktor, dan kemudian menghitungnya menjadi sebuah skor untuk setiap kasus penyalahgunaan. Terakhir, mereka memberikan rekomendasi kepada konsumen tentang apa yang harus dilakukan.

Hanya saja, tetap ada satu masalah: Sangat kecil kemungkinan kalau konsumen akan melihat website setiap minggu untuk melihat penyalahgunaan apa yang terjadi dan apa yang harus mereka lakukan. Jadi, perusahaan baru tersebut memberikan satu solusi: yakni, mengintegrasikan layanan perlindungan identitas dengan platform digital banking milik bank. Bank harus memandang penyalahgunaan data dan perlindungan identitas sebagai salah satu komponen dari kesehatan finansial. Kemudian, aplikasi digital dan website mereka harus dipadukan dengan fitur perlindungan identitas. Integrasi ini dapat melengkapi layanan skor kredit dan kalkulator keuangan yang disediakan gratis di apps dan website.

Baca Juga:   Tips Berjualan Mudah di Marketplace, Gak Pakek Ribet!
Manajemen Transfer Kekayaan

Sebuah survey di Amerika Serikat menunjukkan bahwa dalam 25 tahun ke depan, generasi baby boomer akan mentransfer harta mereka kepada keturunan atau ahli warisnya. Jumlahnya diperkirakan menjadi $48 triliyun. Artinya, akan terjadi transfer harta kekayaan dari pemegangnya saat ini ke generasi berikutnya. Sebagian besar bank memandang persoalan ini dalam dua cara yang berbeda: 1) khawatir kalau sebagian uang yang saat ini mereka kelola akan mengalir keluar, dan 2) optimis bahwa mereka akan membangun hubungan yang baik dengan penerima warisan tersebut.

Tentunya, mereka berhak atas pandangan tersebut. Namun, jika hanya fokus pada implikasi dari manajemen kekayaan, mereka akan kehilangan satu peluang lagi: yakni, manajemen transfer kekayaan. Akibatnya, bank mengabaikan fakta bahwa proses transfer kekayaan sebenarnya sangat rumit, sulit dipahami, dan faktanya, kebanyakan orang tidak ingin menghabiskan uang ribuan dollar untuk membayar fee ahli hukum atau penasehat hukum agar mereka bisa mendapatkan kekayaan yang menjadi haknya.

Setidaknya, ada dua Fintech yang berusaha menangkap peluang ini, yakni Atticus dan Trust&Will. Kedua perusahaan ini berusaha memberikan layanan digital yang murah dan mudah untuk perencanaan kekayaan dan manajemen transfer kekayaan. Kerjasama bank dan fintech sejenis ini dapat menciptakan sumber pendapatan baru. Selain itu, kerjasama ini mungkin menempatkan bank pada posisi yang tepat untuk mengelola harga klien begitu proses peralihan selesai.

Investasi Cryptocurrency

Perdagangan Bitcoin, Ethereum, dan jenis mata uang crypto lainnya meningkat tajam sejak awal Tahun 2020 dan semakin naik pada bulan Februari. Bahkan, angkanya tetap tinggi di tengah krisis yang disebabkan oleh pandemi virus Corona, dari bukan Maret hingga Mei. Sekitar 1 dari 10 orang dewasa di Amerika Serikat saat ini memiliki mata uang bentuk digital, dan separuh di antaranya mengaku pernah menggunakan mata uang digital (cryptocurrency) untuk membeli barang dan jasa.

Baca Juga:   7 Cara Mendapatkan Uang Dari Internet Tanpa Modal 2019

Melonjaknya investasi di bidang cryptocurrency merupakan sebuah anugerah bagi Square. Pendapatan Bitcoin berdasarkan laporan Cash App untuk Quartal 1 Tahun 2020 mencapai $306 juta, naik dari $65 juta pada Kuartal I Tahun 2019. Tidak mengherankan sebenarnya. Banyak laporan menunjukkan bahwa PayPal berencana menawarkan layanan pembelian crypto melalui aplikasi PayPal dan Venmo.

Di satu sisi, banyak bank yang melarang konsumennya membeli cryptocurrency menggunakan kartu yang mereka keluarkan. Namun di sisi lain, pengarusutamaan investasi mata uang digital justru memunculkan pertanyaan baru bagi bank, bukan hanya terkait izin penggunaan kartu, namun juga apakah bank harusnya menyediakan lebih banyak layanan terkait investasi cryptocurrency.

Lalu, mengapa banyak bank yang tidak memanfaatkan peluang kerjasama di atas? Menurut sejumlah pengamat, penyebabnya adalah karena sesungguhnya banyak bank yang tidak memiliki ‘budaya inovasi.” Padahal, ide kerjasama bank dan fintech di atas dapat menjadi sumber penghasilan yang menjanjikan.

Tagged With :

Leave a Comment