Harga Minyak Dunia Tadi Pagi Bergerak Turun Sekitar 1,4%

PADA perdagangan Kamis pagi (17/12) , harga minyak mentah dunia bergerak turun. Penyebabnya karena produksi shale gas AS. Karena itu Presiden AS meminta produsen untuk memproduksi minyak mentah.

Dikutip dari Bloomberg Pukul 7:48, minyak mentah jenis West Texas Intermediate AS di pasar berjangka Nymex untuk pengiriman Februari, harga turun 1,44% ke US$ 45,87 per barel. Sementara harga minyak pada Rabu (2/1) menguat 2,49% ke US$ 46,54 per barel.

Pada 2018 harga minyak masih mengalami kekacauan. Bahkan pada empat tahun belakangan, harga minyak sempat jatuh pada harga US$ 30 per barel. Volatilitas menjadi kata kunci tahun ini juga mengingat kelebihan pasokan dan kekhawatiran permintaan tinggi pada daftar kekhawatiran untuk industri.

Kabar kesepakatan broker Rusia untuk mengekang produksi dan berbagi kendali dengan Arab Saudi berimbas adanya indikasi yang dimainkan. Tweet Presiden AS Donald Trump yang menuntut harga minyak lebih rendah dan produsen shale gas AS memompa volume minyak mentah membuat harga minyak juga tertekan.

Dikutip dari Bloomberg, Kamis (3/1), Kepala pasar minyak di Badan Energi Internasional mengatakan, ada ketidakpastian utama dan tren peramalan pada 2019. “Bahkan lebih berbahaya dari biasanya,” kata Neil Atkinson,

Dia mengatakan, ketidakpastian geopolitik merupakan risiko serius bagi industri.

CEO ConocoPhillips, Ryan Lance menilai harga minyak akan tetap bergejolak, sebagian didorong oleh produksi shale gas Amerika Utara yang fleksibel yang dapat naik dan turun dengan cepat sebagai respons terhadap perubahan bisa terjadi.

Sementara itu, di Indonesia, Pertamina berpeluang untuk menekan impor minyak mentah setelah berhasil meneken kontrak jual-beli dengan 11 Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS). Hal ini sesuai dengan Peraturan Menteri (Permen) Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Nomor 42 Tahun 2018 yang mengatur tentang prioritas pemanfaatan minyak bumi untuk keperluan dalam negeri.

Media Communication Manager Pertamina Arya Dwi Paramita mengatakan, sebagai pihak yang ditunjuk oleh pemerintah, Pertamina mengaku siap untuk menyerap minyak mentah dari KKKS tersebut. Dengan pembelian minyak mentah bagian KKKS itu, Pertamina bisa menyuplai kebutuhan minyak mentah yang akan diolah di kilang-kilang dalam negeri.

“Hal ini penting untuk mengurangi beban impor, salah satu upaya untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri,” kata Arya, Rabu (2/1) malam. (*)

 

 

 

Tinggalkan sebuah Komentar