Harga Minyak Bergerak Tipis di Tengah Kenaikan Pasokan AS

JAKARTA – Sempat menembus US$ 55 per barel pada akhir pekan lalu, harga minyak cenderung terkoreksi. Rabu (6/2) pukul 7.17 WIB, harga minyak west texas intermediate (WTI) untuk pengiriman Maret 2019 di New York Mercantile Exchange berada di US$ 53,77 per barel, turun 2,70% ketimbang Jumat lalu yang masih ada di US$ 55,26 per barel.

Hari ini, harga minyak naik tipis 0,20% ketimbang hari sebelumnya di US$ 53,66 per barel. Harga minyak bergerak di rentang sempit sejak pekan lalu meski berada di atas harga rata-rata tahun ini pada US$ 52,17 per barel.

Harga minyak brent untuk pengiriman April 2019 di ICE Futures kemarin ditutup pada US$ 61,98 per barel, melemah 0,85% ketimbang posisi awal pekan. Dalam sepekan, harga minyak acuan internasional ini menguat 1,27%.

Sejumlah sentimen positif yang mengerek harga minyak antara lain pemangkasan produksi OPEC yang masih berlangsung serta sanksi Amerika Serikat (AS) terhadap Venezuela. Menurut survei Reuters, pasokan minyak OPEC bulan lalu turun di level terbesar dalam dua tahun terakhir.

Menteri Energi Rusia Alexander Novak mengatakan bahwa Rusia mematuhi pemangkasan produksi secara bertahap. Dia mengatakan, produksi turun 47.000 barel per hari pada bulan Januari jika dibandingkan dengan Oktober tahun lalu.

Meski OPEC memangkas produksi, pasokan masih bertambah dari rekor produksi AS. Angka produksi terbaru AS kini mencapai 11,9 juta barel per hari.

Data Genscape menunjukkan bahwa persediaan minyak mentah di Cushing, Oklahoma naik lebih dari 943.000 barel hingga 1 Februari lalu. Di sisi lain, prediksi permintaan menurun karena penurunan pesanan baru pabrik AS. Penurunan tajam tampak pada pesanan mesin dan peralatan elektronik.

“Ada kekhawatiran bahwa pelambatan manufaktur akan mengurangi permintaan minyak. Karena angka manufaktur mengecewakan, pasar minyak bereaksi,” kata Phil Flynn, analis minyak Price Futures Group kepada Reuters.

Di sisi lain, Gene McGillian, director of market research Tradition Energy mengatakan, pasar masih menunggu update negosiasi dagang AS-China. “Pasar tampaknya kembali khawatir tidak ada kemajuan berarti dalam pembicaraan kedua negara,” kata dia.

Pekan lalu, Presiden AS Donald Trump mengatakan akan bertemu dengan Presiden China Xi Jinping untuk menyelesaikan perselisihan.

EMAS STAGNAN

Sementara itu harga emas cenderung stagnan di pekan ini. Rabu (6/2) pukul 8.06 WIB, harga emas untuk pengiriman April 2019 di Commodity Exchange berada di US$ 1.319,30 per ons troi.

Harga emas ini naik tipis dari posisi kemarin pada US$ 1.319,20 per ons troi. Dalam sepekan, harga emas masih menguat 0,29%.

Di pasar Asia, likuiditas pasar emas lebih terbatas mengingat libur tahun baru Imlek. “Fokus pasar emas akan lebih terarah pada musim rilis laporan keuangan karena pasar China tutup,” kata Jeffrey Halley, senior market analyst OANDA kepada Reuters.

Halley memperkirakan, harga emas memiliki support kuat di level US$ 1.300. Dukungan kuat harga emas berasal dari posisi Federal Reserve yang memperlambat kenaikan suku bunga.

Loretta Mester, Gubernur Fed Cleveland mengatakan, bank sentral mungkin perlu menaikkan suku bunga jika ekonomi menguat. “Investor akan perlu sinyal lebih kencang sebelum agresif masuk pasar,” ungkap analis TD Securities dalam catatan. TD Securities memperkirakan, The Fed perlu menaikkan suku bunga setidaknya sekali lagi.

Salah satu kabar yang ditunggu juga adalah negosiasi dagang AS-China dan pidato Presiden AS Donald Trump hari ini. Pasar berharap, dalam pidato State of the Union, Trump akan menebar sinyal positif baik itu dari sisi perdagangan maupun kondisi politik domestik. (*)

 

Tinggalkan sebuah Komentar