Grafik Harga Saham Menunjukkan Celah (Gap), Apa Artinya?

Pernahkah Anda menemukan celah besar antar candle saat memantau grafik harga saham? Pergerakan harga biasanya digambarkan oleh candle yang saling sambung menyambung dan ekor atau badan candle-nya bertumpukan satu sama lain. Namun, ketika celah besar ini muncul, ekor maupun badan candle kedua tidak bersinggungan sama sekali dengan candle pertama. Contohnya seperti nampak dalam area yang diarsir coklat pada gambar di bawah ini:

Grafik Harga Saham Menunjukkan Celah (Gap) Apa Artinya?

Kemunculan celah seperti itu lazim disebut dengan istilah “gap“. Namun, apa artinya?

Pada dasarnya, ada dua jenis gap, yakni gap up (celah naik) dan gap down (celah turun). Gap up terjadi ketika harga pembukaan pada candle kedua jauh lebih tinggi di atas harga penutupan pada candle pertama. Sebaliknya, gap down muncul saat harga pembukaan pada candle kedua jauh lebih rendah di bawah harga penutupan pada candle pertama. Contoh yang nampak pada tangkapan layar di atas itu, tentu saja adalah gap down.

Gap ini memiliki makna khusus, sesuai dengan fungsi candle untuk menggambarkan kondisi pasar dalam bentuk grafik. Saat muncul gap up, itu artinya permintaan pasar atas suatu saham mengalami peningkatan drastis, terutama di luar pasar reguler. Sedangkan terjadinya gap down dipicu oleh maraknya aksi jual (penawaran) atas saham tersebut, khususnya di luar pasar reguler.

Lantas, apa yang menyebabkan terjadinya kenaikan atau penurunan permintaan dan penawaran saham secara drastis dalam waktu singkat? Penyebabnya bisa kabar baik maupun kabar buruk yang seketika merubah prospek saham itu. Bisa jadi kabar kejanggalan laporan keuangan, kabar melonjaknya pendapatan perusahaan, atau berita-berita lain yang berdampak tinggi.

Apabila Anda menyaksikan kemunculan gap pada grafik harga Daily, maka sebaiknya segera mencari berita terkini mengenai saham terkait. Siapa tahu, Anda ketinggalan berita super penting yang berhubungan dengan saham dalam portofolio Anda itu. Namun, jangan terburu-buru panik mengikuti gejolak pasar, melainkan cobalah menganalisis ulang fundamental keseluruhan saham tersebut. Bisa jadi, penurunan ataupun peningkatan itu hanya karena faktor shock saja. Setelah faktor shock mereda, pelaku pasar kemungkinan memperhitungkan lagi situasi dan kemudian melakukan penyesuaian yang belum tentu searah dengan penurunan maupun kenaikan gap sebelumnya.

Tagged With :

Tinggalkan sebuah Komentar