Ciri-ciri Saham yang Harganya akan Turun

Keuntungan di pasar saham diperoleh dari kenaikan harga, sedangkan kerugian akan timbul akibat penurunan harga. Secara sederhana, ini artinya selain mencari saham-saham yang akan untung, investor dan trader di pasar saham sebaiknya juga mengetahui ciri-ciri saham yang akan turun agar dapat menghindarinya, atau (jika sudah telanjur dimiliki) menjual saham sebelum harga mencapai titik yang perlu diwaspadai itu.

Sebelumnya, kami telah memberikan sejumlah tips untuk menemukan saham-saham yang akan untung secara teknikal maupun tanda-tanda saham bagus yang akan untung menurut Warren Buffett. Dibandingkan berbagai kriteria tersebut, ciri-ciri saham yang harganya akan turun sangat sederhana, hanya terdiri dari tiga saja.

Ciri Ciri Saham yang Harganya akan Turun

 

1. Penurunan Volume Trading

Apabila Anda menyaksikan harga suatu saham mengalami kenaikan pesat dan ramai diperjualbelikan dalam beberapa hari, tetapi kemudian sampai pada suatu waktu ketika volume trading berkurang signifikan, maka perlu mewaspadai kemungkinan harga saham ini akan menurun.

Namun, ciri-ciri ini hanya akan nampak pada saham-saham likuid yang harganya telah melesat saja. Anda tak dapat menggunakan patokan ini untuk mendeteksi sinyal penurunan dari saham-saham yang sejak awal minat beli dan minat jual pasarnya rendah.

 

2. Peningkatan Selisih Volume Bid-Ask (Offer) Terlalu Besar

Volume Bid dan Ask (Offer) mewakili hasrat investor dan trader di pasar saham untuk membeli atau menjual suatu saham. Dalam hal ini, jika jumlah volume saham yang ingin dijual (Offer) melonjak hingga jauh lebih tinggi dibandingkan volume saham yang ingin dibeli (Bid), maka ada kemungkinan harga saham akan menurun. Akan tetapi, apabila yang terjadi adalah sebaliknya (volume Bid melonjak) maka itu kemungkinan besar bukan tanda-tanda harga saham akan naik, karena bisa saja termasuk permainan bandar menggoreng saham.

 

3. Harga Telah Mencapai Level Resisten Teknikal

Secara teknikal, pada grafik harga setiap saham, kita bisa menyaksikan level harga tertentu yang berfungsi semacam “atap” atau “batas atas” bagi pergerakan harga. Itulah yang dinamakan level resisten. Nah, setelah harga mencapai level-level resisten semacam itu, jangan lantas memborong saham karena ada kemungkinan bakal berbalik turun.

Memang ada saham-saham yang bisa terus menerus mencetak level tertinggi baru, tetapi biasanya ada penggerak yang mendorongnya secara fundamental. Misalnya performa kinerja keuangan semakin meningkat dari waktu ke waktu, aksi korporasi besar, dan sejenisnya.

Tagged With :

Tinggalkan sebuah Komentar