9 Cara Investasi Reksadana Mudah untuk Hasil yang Sempurna

XM broker promo bonus

Cara investasi reksadana sebenarnya tidak begitu sulit. Bagi kita yang awam kini sangat terbantu oleh banyaknya informasi tentang cara investasi reksadana. Memang kita harus betul-betul tahu, semua hal tentang reksadana sehingga wajib rasanya memahami cara investasi reksadana.

Lalu, mengapa investasi reksadana mulai banyak digeluti banyak orang? Hal ini lantaran keinginan masyarakat untuk bebas beban finansial, saat sudah lelah menjadi pegawai atau saat pensiun kelak, membuat tren berinvestasi mulai banyak diminati.

Sedangkan, reksadana sendiri menurut laman IDX, adalah paket investasi yang pengelolaan instrumen investasinya dilakukan oleh Manajer Investasi (MI). Tentunya para MI ini sudah mempunyai izin dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

Biasanya, sebelum memulai berinvestasi reksadana dan mendaftar ke sekuritas. Calon nasabah akan diberikan kuesioner profil untuk panduan Manajer Investasi dalam mengelola dana nasabah. Kuisioner ini berisi pertanyaan yang digunakan penjual reksadana untuk mengetahui tingkatan resiko calon nasabah.

Semakin agresif profilnya, biasanya maka semakin agresif pula pilihan reksadananya. Tingkatannya pun dibagi menjadi 3, yaitu konservatif (tingkat risiko rendah), moderat (tingkat risiko menengah) dan agresif (tingkat risiko tinggi).

cara investasi reksadana

Jenis-jenis Reksadana

Nah jika kita sudah mengetahui apa itu investasi reksadana, ada baiknya kita juga paham akan jenis-jenis reksadana. Hal ini untuk mengetahui, jenis reksadana apa yang yang mau diinvestasikan dan agar kita bisa sesuaikan cara investasi reksadana yang tepat.

1. Reksadana Pasar Uang (Money Market Fund)

Pada reksadana ini, investasi akan berfokus pada surat utang jangka pendek dan deposito dengan jatuh tempo kurang dari 1 tahun. Keuntungan dari reksadana jenis ini adalah, tingkat risiko yang kecil, potensi imbal hasilnya lebih tinggi dari deposito, modal investasi tergolong kecil, dan mudah dicairkan. Sedangkan kekurangannya adalah keuntungan yang nasabah dapat tidak pasti dan kecil.

2. Reksadana Pendapatan Tetap (Fixed Income Fund)

Disebut reksadana pendapatan tetap karena surat utang secara konsisten mendapat pembayaran bunga (kupon) dari penerbitnya. Jadi pada di lapangan, bunga dari surat tersebut tidak diteruskan ke investor tapi diinvestasikan ulang. Sehingga nilai reksadana bertambah dan harganya meningkat.

Di satu sisi, ketika suku bunga dan inflasi turun maka harga obligasi dan pasar uang akan naik. Begitupun sebaliknya, ketika suku bunga dan inflasi naik maka harga obligasi dan pasar uang akan turun. Selain itu, investasi ini berpotensi wanprestasi atau gagal bayar dari penerbit surat utang atau obligasi.

3. Reksadana Campuran (Balanced Fund)

Jenis reksadana ini menempatkan dana investasi nasabah pada beberapa jenis  instrumen yang pembeliannya harus mencakup instrumen investasi saham, surat utang (obligasi), dan pasar uang. Reksadana ini punya tingkat resiko moderat ke tinggi.

Meski begitu, keuntungannya jika saham sedang loyo, investasi bisa difokuskan ke obligasi atau pasar uang. Sedangkan saat satu porsi instrumen merugi, porsi lain bisa memberikan keuntungan.

4. Reksadana Saham (Equity Fund)

Sesuai namanya, sebagian besar dana investor reksadana ini difokuskan ke saham. Sedikitnya 80 persen dana investor akan diinvestasikan ke saham dan sisanya ke instrumen lain. Reksadana ini cocok buat nasabah yang ingin investasi jangka panjang (5-10 tahun).

Tingkat resikonya yang tinggi sebanding dengan tingkat potensi keuntungan jika dibandingkan dengan reksadana lain. Dan juga investasi nasabah tersebar ke berbagai saham sekaligus. Namun, tipe reksadana ini memiliki kekurangan berupa harga saham yang fluktuatif, sehingga kurang cocok untuk investasi jangka pendek.

Cara Investasi Reksadana yang Direkomendasikan

Nah jika kita sudah mengetahui pengertian dan juga jenis reksadana yang mau diambil, calon nasabah diharapkan tau cara investasi reksadana yang sesuai keinginan serta menguntungkan. Ada 9 cara investasi reksadana yang perlu kalian ketahui.

1.     Pilih Platform

Pilihlah platform reksadana online yang menjual reksadana dari semua manajer investasi. Hal ini selain memudahkan, calon nasabah juga memiliki banyak variasi pilihan.

2.     Daftar Anggota

Setelah memilih platform secara online, pendaftaran pun juga jadi lebih mudah. Setelah isi formulir di rumah secara online, pihak penjual akan datang langsung. Setelah daftar untuk membuka rekening, nasabah harus memastikan info rekening tabungan benar. Karena setelah berhasil daftar, maka selanjutnya pencairan uang dari reksadana akan dilakukan ke rekening tersebut.

3.     Deposit Dana

Setelah menjadi anggota, nasabah harus harus deposit dana di rekening yang terdaftar di platform online. Setelah transfer, nasabah bisa langsung mengecek di aplikasi apakah uang sudah efektif masuk rekening. Jika sudah efektif, maka nasabah siap melakukan investasi.

4.     Memilih Reksadana Saham

Nasabah harus mengecek reksadana saham apa saja yang ada di platform online tadi. Karena jadi tidak berguna jika nasabah sudah masuk platform tapi reksadana saham yang diinginkan tidak ada.

5.     Ada Izin OJK

Pastikan dulu investasi yang nasabah ambil sudah mendapat izin dari OJK. Jika tawaran/produknya meragukan, sebaiknya ditolak. Pengecekan izin ini juga merupakan bentuk upaya preventif agar nasabah tidak tertipu oleh bentuk investasi bodong atau abal-abal.

6.     Tentukan Jangka Waktu

Nasabah selain juga harus memilih reksadana yang mau diinvestasikan, mereka juga wajib menentukan jangka waktu. Karena setiap reksadana memiliki jangka waktu yang berbeda, mulai dari di bawah satu tahun, 1-3 tahun, 3-5 tahun, dan lebih dari 5 tahun. Untuk yang kurang dari setahun sebaiknya pilihlah reksa dana pasar uang. Untuk investasi 1-3 tahun, pilihlah reksadana pendapatan tetap. Dan, untuk jangka waktu 3-5 tahun, gunakanlah reksa dana campuran. Jika lebih dari itu semua, maka nasabah sebaiknya pilih reksadana saham.

7.     Pantau

Setelah mulai berinvestasi, nasabah wajib memantau terus investasinya. Hal ini juga untuk mengevaluasi kinerja reksadana yang kita pilih. Lihat kinerja investasinya, berapa nilai investasi reksadananya, dan berapa potensi keuntungan atau kerugian. Itu hal dasar yang perlu di monitoring.

8.     Membeli

Setelah menentukan pilihan, nasabah bisa langsung membeli saham reksadana. Tentukan jumlah investasi yang akan dibeli. Perlu diketahui bahwa nasabah tidak bisa berinvestasi dana yang jauh lebih besar dari isi rekening.

9.     Menjual

Benar, setelah membeli saham reksadana, selanjutnya nasabah menjual saham tersebut. Caranya dengan me-redeem reksadana.

Tagged With :

Leave a Comment