Bunga Deposito Bank Semakin Menurun Jelang Akhir Tahun 2019

Bank Indonesia (BI) telah memangkas suku bunga beruntun selama tahun 2019 hingga mencapai level 5 persen, dalam rangka menyesuaikan kebijakan dengan kondisi ekonomi terkini. Namun, keputusan itu berdampak negatif bagi para nasabah yang menyimpan dana dalam deposito perbankan. Bunga deposito bank semakin menurun menjelang akhir tahun ini, sehingga kian tak menguntungkan bagi investor.

Bank Pertahankan Suku Bunga Deposito Tinggi Tahun 2019 Ini

Data Pusat Informasi Pasar Uang (PIPU) Bank Indonesia per pertengahan bulan November ini menunjukkan bahwa suku bunga deposito bank tertinggi hanya sebesar 6.8 persen. Bank yang menyediakan bunga tertinggi itu adalah bank UOB Indonesia untuk produk deposito berjangka waktu 12 bulan.

Di bawahnya terdapat bank CIMB Niaga dengan bunga 6.7 persen untuk deposito bertenor 3 bulan. Peringkat ketiga terbesar diduduki oleh bank ICBC Indonesia dengan bunga deposito 6.5 persen untuk jangka waktu 6 bulan, serta bank Maybank Indonesia dan bank Mega sebesar 6.5 persen untuk jangka waktu 12 bulan.

Posisi suku bunga deposito bank ini jelas jauh berbeda dibandingkan suku bunga deposito tahun lalu yang sempat mencapai kisaran 7-8 persen per tahun. Apabila Bank Indonesia memangkas suku bunga acuan lebih lanjut, maka suku bunga deposito pun bakal semakin menurun.

Apa yang dapat dilakukan oleh investor dalam situasi seperti ini? Produk deposito bank boleh jadi bukan aset investasi yang tepat untuk periode ini. Apabila Anda termasuk investor yang memprioritaskan keamanan dana, maka aset obligasi negara RI merupakan pilihan investasi yang lebih prospektif dengan imbal hasil bunga mencapai lebih dari 7 persen. Namun, berbeda halnya apabila Anda termasuk investor yang memiliki selera risiko lebih tinggi.

Apabila Anda termasuk risk-taker, maka ada peluang profit besar dari penurunan saham-saham unggulan di Bursa Efek Indonesia belakangan ini. Sejumlah saham top bisa dibeli dengan harga jauh lebih murah dibandingkan biasanya, seperti Telkom (TLKM) dan Bank BRI (BBRI). Anda memang akan menghadapi risiko penurunan harga saham lebih jauh untuk sementara waktu, sehingga kemungkinan saldo akan minus selama beberapa waktu. Akan tetapi, jika harga saham menguat kembali seiring dengan kokohnya fundamental masing-masing perusahaan, maka Anda dapat mendulang cuan berlipat ganda di masa depan. Kedua perusahaan itu juga selalu membagi dividen dalam jumlah besar setiap tahun, sehingg ada sumber profit selain kenaikan harga saham semata.

Baca Juga:   Investasi Online yang Menguntungkan dengan Peer-to-Peer Lending

Tagged With :

Leave a Comment