Benarkah Harga Minyak Dikendalikan Oleh Arab Saudi?

Arab Saudi merupakan salah satu eksportir minyak mentah terbesar dunia dan memiliki kontribusi paling dominan dalam OPEC (Organization of the Petroleum Exporting Countries). Kedua fakta itu seringkali digunakan oleh banyak pihak untuk menuding Arab Saudi merekayasa harga minyak untuk keuntungannya sendiri. Namun, benarkah kalau harga minyak dikendalikan oleh Arab Saudi? Untuk mengklarifikasinya, kita perlu meninjau beberapa aspek.

Benarkah Harga Minyak Dikendalikan Oleh Arab Saudi?

Arab Saudi memang memiliki dua dari lima ladang minyak terbesar di dunia. Tepatnya ladang minyak Ghawar yang menghasilkan sekitar 5 juta barel minyak mentah per hari, serta Safaniya yang memproduksi 1.4 juta barel per hari. Namun, Arab Saudi bukanlah negara produsen maupun konsumen minyak utama, sehingga mereka tak punya kekuatan untuk mengendalikan supply dan demand secara sepihak.

Berdasarkan data terbaru, produsen minyak utama dunia adalah Amerika Serikat, diikuti oleh Rusia, kemudian baru Arab Saudi pada urutan ketiga. Di sisi lain, negara konsumen minyak terbesar adalah Amerika Serikat, diikuti oleh China, India, Jepang, kemudian Arab Saudi pada peringkat kelima.

Pada awal abad ke-21, Amerika Serikat mulai menggalakkan penambangan minyak shale (fracking) domestik. Upaya tersebut membuatnya mampu berswasembada minyak, menghentikan impor dari Arab Saudi, serta mulai mengekspor output bahan bakarnya ke luar negeri. Hal ini merupakan faktor pertama yang mengurangi pengaruh Arab Saudi terhadap harga minyak sejak beberapa tahun lalu. Sementara itu, pemenuhan kebutuhan minyak China juga diambil alih oleh Rusia.

Satu-satunya pengaruh Arab Saudi terhadap pasar minyak global saat ini terletak pada OPEC yang mengendalikan sekitar 40 persen pasokan minyak dunia. Posisinya sebagai negara nomor satu dalam kartel tersebut memungkinkannya ikut andil dalam menentukan kuota produksi bagi banyak negara lainnya. Namun, pengambilan keputusan OPEC juga perlu memerhatikan pendapat negara anggota OPEC lainnya, khususnya terkait standar harga minyak yang dapat diterima bersama.

Baca Juga:   Berita Ekonomi yang Menguntungkan Untuk News-Trading

Menurut sejumlah sumber, standar harga yang ideal bagi anggaran Arab Saudi adalah sekitar USD80 per barel untuk minyak mentah tipe Brent. Oleh karenanya, mereka berupaya memengaruhi kebijakan kuota OPEC dengan menyasar kisaran harga tersebut. Ini merupakan salah satu faktor yang menyebabkan selisih harga minyak tipe Brent dan WTI cukup tinggi, di samping juga perbedaan karakteristik komoditas dan jalur distribusinya.

Tagged With :

Tinggalkan sebuah Komentar