Aturan Electronic Bookbuilding Diharapkan Bisa Rem Lonjakan Harga IPO

JAKARTA – Selasa (8/1) ini, PT Jasa Utama Capital Sekuritas tercatat sebagai underwriter pertama yang mengantarkan penawaran umum perdana atau initial public offering (IPO) tahun 2019.

Adalah PT Sentra Food Indonesia Tbk (FOOD) yang menjadi emiten baru yang berhasil di antarkan IPO. Saham ini tercatat kelebihan permintaan hingga sembilan kali pada masa bookbuilding. Harga saham FOOD pun melonjak hingga 68,89% pada pembukaan perdagangan.

“Untuk IPO FOOD saat ini animonya sangat besar karena memang jatah ritel atau pooling allotment pada saat bookbuilding hanya 1%,” kata Direktur Utama Jasa Utama Capital Deddy Suganda.

“Aturan terkait penjatahan pooling allotment dan fixed allotment akan diterapkan pada bulan April 2019,” tambah Deddy Suganda saat ditemui di Bursa Efek Indonesia (BEI), Selasa (8/1).

Nanti, menurut dia, dengan aturan ini diharapkan lonjakan IPO setidaknya tidak akan menyentuh auto reject atas (ARA) pada perdagangan hari pertama. Lebih lanjut, menurutnya otoritas sudah melakukan sosialisasi terkait aturan tersebut.

“Peraturan harusnya sudah keluar di Januari 2019 ini. Pembicarannya, untuk nilai emisi di bawah Rp 100 miliar jatah pooling allotment sebesar 15%. Otoritas Jasa Keunagan (OJK) minta segitu. Asosiasi Perusahaan Efek Indonesia (APEI) minta 10%,” ujar Deddy.

Sebelumnya pernah diberitakan, salah satu cara untuk membuat harga saham perdana atau saham initial public offering (IPO) menjadi lebih objektif dengan memberlakukan sistem electronic bookbuilding (EBB) agar distribusi saham menjadi lebih merata.

“Melihat fenomena lonjakan harga saham IPO, salah satu respon OJK adalah dengan memberlakukan sistem EBB,” kata Fakhri Hilmi, Deputi Pengawas Pasar Modal II OJK

Dengan aturan baru tersebut, lanjut dia, diharapkan penyebaran saham lebih merata ke investor dan pembentukan harga lebih transparan. Selain itu, nantinya aturan ini juga akan mencakup pada penawaran perdana obligasi.

“Implementasi aturan baru tersebut diharapkan dapat mencerminkan harga saham yang lebih objektif yang membuat lonjakannya lebih masuk akal,” ujar Fakhri.

Mengenai saham IPO yang rentan masuk dalam kategori unusual market activity (UMA), menurut Fakhri mekanisme itu sepenuhnya ada di ranah BEI, OJK akan fokus kepada EBB yang sedang digodok. (*)

 

 

Tinggalkan sebuah Komentar