Analis: Perang AS-Iran Bisa Akibatkan Harga Minyak Meroket

Potensi perang AS-Iran kembali mencuat sejak pekan lalu, setelah Presiden AS Donald Trump menuduh Iran menyerang sebuah kapal tanker di Teluk Oman. Meskipun Iran dan pemilik kapal tanker sama-sama menepis tuduhan AS tersebut, tetapi banyak pihak mulai memperhitungkan potensi dampak yang akan ditimbulkan seandainya kedua negara mulai baku hantam. Apalagi, Iran dilaporkan baru saja menembak jatuh sebuah drone AS yang terbang di atas Selat Hormuz.

Harga minyak mentah telah menanjak cepat hingga mencapai level tertinggi sejak Mei antara USD55-65 per barel, menyusul kasak-kusuk konflik AS-Iran tersebut. Rumor menyebutkan bahwa harga minyak mungkin bahkan bisa melonjak sampai lebih dari USD100 per barel jika adu tembak terjadi antara AS-Iran. Benarkah demikian?

Ladang Minyak Terbesar Di Dunia

Jeffrey Tucker dari American Institute for Economic Research mengatakan, “Kita bisa menyaksikan lonjakan harga minyak jika perang benar-benar pecah” karena tak ada pihak yang siap menghadapi gangguan jalur distribusi minyak di Timur Tengah. Namun, ia menilai dibutuhkan waktu berbulan-bulan untuk mencapai level harga minyak setinggi USD100 per barel. Lonjakan harga minyak juga paling-paling hanya bertahan selama enam bulan sebelum kembali stabil.

Sementara itu, Andy Lipow dari Lipow Oil Associates menilai kalau harga minyak mentah bisa dengan mudah melampaui USD100 per barel jika Selat Hormuz ditutup. Akan tetapi, ia juga setuju kalau lamanya tren bullish pada harga minyak akan tergantung pada berapa lama gangguan distribusi berlangsung di Timur Tengah. Katanya, “Saya akan mengekspektasikan bahwa (tren bullish) itu akan bertahan selama beberapa bulan atau antara satu-dua bulan, hingga perseteruan mereda dan selat (Hormuz) dibuka kembali dan aman untuk dilalui kapal-kapal.”

Terlepas dari semua itu, pertanyaan yang lebih penting lagi, apakah perang AS-Iran benar-benar akan terjadi? Hal ini sangat tergantung pada kepentingan Amerika Serikat. Sejumlah pakar menilai bahwa produsen AS kemungkinan menilai konflik ini bisa jadi menguntungkan bagi mereka. Namun, tak ada pihak yang siap menghadapi gangguan pasokan minyak untuk saat ini, sehingga pekan lalu AS batal menyerang Iran. Tentu saja, AS masih bisa melancarkan sanksi non-militer atau serangan sungguhan dalam beberapa waktu ke depan.

Tagged With :

Tinggalkan sebuah Komentar