Ada Kekhawatiran Kebijakan The Fed, Wall Street Melemah

XM broker promo bonus

PADA perdagangan Kamis (9/9/2021) waktu Amerika Serikat, Wall Street berakhir melemah.  Hal tersebut karena didorong kekhawatiran arah kebijakan Bank Sentral AS, Federal Reserve (The Fed). Tiga indeks utamanya turun, sejumlah saham kelas kakap juga berada di zona merah.

Dow Jones Industrial Average turun 0,43 persen menjadi berakhir pada 34.879,38, S&P 500 kehilangan 0,46 persen menjadi 4.493,28, dan Nasdaq Composite turun 0,25 persen menjadi 15.248,25.

Berdasarkan laporan Reuters, Jumat (10/9), turunnya Wall Street ini menghilangkan kekhawatiran pemulihan ekonomi yang melambat. Di sisi lain, juga memicu rasa was-was Bank Sentral AS The Fed bisa saja bergerak lebih cepat dari yang diharapkan untuk mengurangi kebijakan akomodatifnya, seperti suku bunga dan pengurangan pembelian aset (tapering off).

Saham Microsoft dan Amazon masing-masing turun sekitar 1 persen. Keduanya saham ini yang paling membebani indeks S&P 500 dan Nasdaq.

Indeks real estate dan perawatan kesehatan (health care) S&P 500 masing-masing turun lebih dari 1 persen dan merupakan sektor dengan kinerja terendah dari 11 sektor. Sementara sektor keuangan, energi, dan material membuat kenaikan moderat.

Saham JPMorgan, Wells Fargo, Citi Group, dan Morgan Stanley masing-masing naik, mengikuti sedikit kenaikan imbal hasil obligasi menyusul data klaim. Menurut Kepala Eksekutif Manajemen Modal Infrastruktur di New York, Jay Hatfield, masalah dengan pasar akhir-akhir ini lebih banyak berputar pada isu-isu yang sama daripada bergerak.

“Hari ini, karena laporan klaim pekerjaan, semua orang membeli saham siklus. Kami melihatnya sebagai pasar yang terbatas, antara 4.400 dan 4.600 (di S&P 500),” ujar Hatfield.

Menurut dia, investor menjadi lebih khawatir dalam sesi terakhir setelah laporan pekerjaan bulanan baru-baru ini menunjukkan perlambatan dalam perekrutan tenaga kerja di sana.

Baca Juga:   Saham Tesla Naik Imbas Elon Musk Terima Bitcoin, Wall Street Ditutup Variatif

Hal lain yang juga menyeret sentimen adalah ketidakpastian tentang kapan The Fed akan mengurangi langkah-langkah besar-besaran yang diberlakukan tahun lalu untuk melindungi ekonomi dari pandemi virus corona.

MASIH TERTEKAN

Menutup akhir pekan, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diprediksi masih akan tertekan pada perdagangan Jumat (10/9). Laju IHSG diperkirakan ke zona merah karena investor masih digeluti kekhawatiran Bank Sentral Amerika Serikat melakukan pengurangan pembelian aset (tapering off).

Analis Artha Sekuritas Dennies Christopher mengatakan secara teknikal candlestick membentuk formasi piercing line mengindikasikan bullish reversal. Hanya saja, penguatan ini diperkirakan akan bersifat sementara lantaran pasar saham masih dibayangi kekhawatiran akibat rencana Tapering The Fed.

“IHSG akan bergerak melemah dengan resistance 2 di level 6.130, resistance 1 di level 6.099, support 1 di level 6.009, dan support 2 di level 5.950,” kata Denies dalam riset hariannya.

Direktur Utama Indosurya Bersinar Sekuritas William Surya Wijaya juga memprediksi hal yang sama. Menurutnya, pergerakan IHSG hingga saat ini masih terlihat berada dalam fase konsolidasi wajar dengan potensi tekanan yang masih jauh lebih besar dibanding dengan kemampuan naiknya.

Sentimen yang minim pun menjadi salah satu faktor yang membuat pola gerak masih stagnan, ditambah dengan masih terlihat kondisi perlambatan perekonomian yang masih berlangsung. Namun, dalam jangka panjang masih terdapat peluang capital gain yang dapat diraih dalam investasi di pasar modal, tentunya untuk saham saham tertentu dengan fundamental yang baik.

“Hari ini IHSG berpotensi tertekan di level 5.969-6.202,” katanya.

Berikut rekomendasi saham yang layak dicermati: BBCA, AKRA, BBNI, KLBF, PWON, JSMR, TLKM, UNVR, ICBP, ASRI.

 

 

Leave a Comment