6 Holding BUMN Ditargetkan Terbentuk Tahun Ini

Kementerian BUMN menargetkan pada tahun ini ada enam holding perusahaan pelat merah yang akan terbentuk. Seluruh holding tersebut terdiri dari 6 sektor perusahaan yang berbeda-beda.

Menteri BUMN Rini Soemarno mengatakan dalam waktu dekat, dua holding bakal rampung yaitu holding BUMN infrastruktur dan holding BUMN perumahan.

“Yang paling utama bulan ini saya harapkan adalah infrastruktur sama perumahan selesai di Februari 2019,” kata Rini saat ditemui di Mandiri Invesment Forum 2019 di Hotel Fairmont, Jakarta, Rabu (30/1).

Sektor lain yang bakal digabung menjadi satu adalah holding BUMN asuransi, jasa keuangan atau perbankan, pelabuhan, dan industri strategis. Untuk industri strategis, merupakan holding perusahaan yang bergerak di bidang pertahanan negara.

Perusahaan yang dimaksud di antaranya PT PAL dan PT Pindad. Rini belum bisa menjelaskan secara detail. Tapi dia berharap keempat holding tersebut bisa terbentuk pada Mei 2019.

“Ada (holding pertahanan). Enggak semuanya April. Bulan Mei saya harapkan selesai. Kalau perbankan, itu juga bulan Mei,” jelasnya.

Ke depannya, selain enam holding tersebut, Rini juga berambisi untuk menyatukan berbagai perusahaan pelat merah yang serupa. Hal ini perlu dilakukan agar perusahaan bisa berjalan efektif, efisien, dan berkembang lebih besar.

Saat ini ada 114 perusahaan BUMN yang terdiri dari 16 sektor. Beberapa di antaranya sudah lebih dulu terbentuk seperti holding perusahaan hutan, minyak dan gas, dan pertambangan.

Tapi Rini menginginkan agar perusahaan negara tidak diurus oleh birokrat. Dia lebih suka perusahaan yang berada di bawah kendali kementeriannya dijalankan oleh pihak profesional.

Alasannya karena mereka dianggap lebih kompeten sehingga bisa mengelola perusahaan dengan baik. Dengan begitu, banyak pihak yang mau berinvestasi pada perusahaan tersebut.

“Tadi saya minta maaf, kalau kita ngomongin memanage korporasi ya lebih baik di-manage oleh professional people bukan birokrat sehingga investor lebih confident karena mereka berbicara di level yang sama,” jelasnya.

SELAMATKAN JIWASRAYA

Perusahaan asuransi pelat merah, PT Asuransi Jiwasraya (Persero), tengah dibelit persoalan terkendala likuiditas sehingga terjadi penundaan pembayaran polis JS Saving Plan senilai Rp 802 miliar yang telah jatuh tempo.

Menteri BUMN Rini Soemarno ada beberapa langkah yang sudah disiapkan untuk menyelamatkan Jiwasraya. Pertama, meminta para nasabah memperpanjang investasi banc-assurance mereka meski masa pembayaran 184 pemegang polis sudah jatuh tempo.

“Kita mendorong ini investment bagus tolong diperpanjang. Jadi sekarang proses komunikasi saja karena sebagian dari pemilik investasi ini itu kerja sama dengan perbankan karena customer-nya dari bank,” kata dia saat ditemui di Mandiri Invesment Forum 2019 di Hotel Fairmont, Jakarta, Rabu (30/1).

Menurut dia, selama masa perpanjangan investasi tersebut, bunga tetap dibayarkan perusahaan ke pemegang polis. Rencana lain, perusahaan bakal menerbitkan obligasi jangka panjang.

Langkah tersebut diambil untuk memperkuat neraca keuangan perusahaan. Saat ini, mereka juga tengah membentuk anak perusahaan untuk bisa mengeluarkan produk-produk terbaru perusahaan.

Kerja sama ini dilakukan bersama BUMN lain. Rini menilai langkah ini juga perlu diambil karena banyak konsumen Jiwasraya merupakan pelanggan dari berbagai perusahaan pelat merah.

“Kalau kita lihat BUMN (Jiwasraya) ini bisnisnya banyak, ada Kereta Api, Garuda yang customer based-nya sangat tertarik dengan berbagai macam produk asuransi. Nanti kita bikin anak perusahan untuk itu dan anak perusahaan kemungkinan mengundang investor asing,” ucapnya.

Rini mengaku daftar BUMN yang bakal diajak bekerja sama masih belum ditetapkan. Menurut dia, perusahaan bakal melaporkannya minggu depan.

Tinggalkan sebuah Komentar