3 Kelemahan Emas Menurut Warren Buffett

Warren Buffett terkenal anti berinvestasi dalam emas. Meskipun ia menanamkan dana hampir USD1 miliar dalam perak, sang investor legenda dunia ini berulang kali mengungkapkan ketidaksukaannya pada emas. Mengapa? Berikut tiga (3) kelemahan emas yang pernah disorot oleh Buffett.

  • Terbatasnya nilai intrinsik emas.

Warren Buffet terkenal sebagai investor berprinsip “value investing”. Oleh karena itu, ia selalu menekankan pentingnya mengenal “value” dalam suatu aset sebelum berinvestasi di dalamnya.

Salah satu prinsip dasar value investing adalah berinvestasi dalam hal-hal yang berguna atau memiliki tujuan tertentu atau memenuhi suatu kebutuhan yang urgen bagi masyarakat. Dalam konteks ini, perak memenuhi syarat sebagai aset investasi yang baik — sedangkan emas tak memenuhi syarat.

Emas Bersertifikat dan Tanpa Sertifikat Mana yang Lebih Untung

Perak merupakan logam yang banyak dipergunakan dalam bidang industri maupun medis. Perak tak tergantikan dalam teknologi pemurnian air. Perak juga merupakan konduktor listrik terbaik dalam berbagai gadget, mulai dari kamera sampai PC. Di sisi lain, penggunaan emas dalam industri tak seluas itu.

Banyak industri menggunakan emas, termasuk otomotif, elektronik, dan medis. Namun, bahan baku lain dapat menggantikannya. Permintaan emas terbesar di dunia saat ini untuk perhiasan, tetapi logam lain juga dapat dibuat menjadi perhiasan yang tak kalah menarik.

  • Emas bukanlah aset yang produktif.

Harga emas sempat mencapai rekor tertinggi USD1.920 pada September 2011. Namun, Warren Buffett saat itu tetap menolak pada investasi emas. Ia menilai para investor membeli emas dengan harapan orang lain akan bersedia membayar lebih mahal untuk memilikinya di masa depan, sedangkan emas itu sendiri tak menghasilkan apa-apa.

Dalam suratnya kepada para pemegang saham Berkshire Hathaway pada 2011, Buffett mengatakan, “Emas…memiliki dua kelemahan signifikan, tidak memiliki banyak kegunaan dan tidak berkembang biak. Memang benar, emas memiliki kegunaan industrial dan dekoratif, tetapi permintaan untuk kedua tujuan ini terbatas dan tidak mampu menyerap produksi baru. Sementara itu, jika Anda memiliki satu ons emas untuk selama-lamanya, Anda akan tetap memiliki satu ons pada akhirnya.”

  • Kenaikan harga emas mengandalkan “ketakutan”.

Emas terkenal sebagai aset safe haven, yakni wahana investasi yang banyak dicari investor untuk melindungi kekayaan mereka di tengah gejolak keuangan. Dengan kata lain, “ketakutan” pasar terhadap krisis-lah yang sering mendorong kenaikan harga emas.

Warren Buffett mengkritisi fenomena ini dalam sebuah wawancara dengan Squawk Box CNBC pada 2011. Katanya, “Dengan aset seperti emas, contohnya, Anda tahu, pada dasarnya emas adalah suatu cara membeli ketakutan, dan itu telah menjadi cara yang baik untuk membeli ketakutan dari waktu ke waktu. Namun, Anda harus berharap orang-orang menjadi makin takut dalam satu atau dua tahun daripada sekarang. Dan jika mereka semakin takut, Anda untung. Jika ketakutan mereka berkurang, Anda merugi. Tapi emas itu sendiri tak menghasilkan apa-apa.”

Nah, bagaimana pendapatmu? Beberapa analis tak sepenuhnya setuju dengan pendapat Buffett. Mereka mengakui kebenaran beberapa kelemahan emas di atas, tetapi menegaskan bahwa harga emas toh terus meningkat dan kadang-kadang bahkan memberikan imbal hasil lebih besar daripada perusahaan investasi-nya Buffett.

Akhir kata, keputusan investasi kamu berada di tanganmu. Semua aset investasi memiliki keunggulan dan kelemahan masing-masing. Demikian pula, cara investasi emas yang tepat dapat membuahkan keuntungan melimpah dalam jangka panjang.

Tagged With :

Leave a Comment